Tantangan Transportasi Massal di Kota Bandung: Antara Harapan dan Kenyataan
Sumber Foto: Mojok.co
Titik Sentris

Tantangan Transportasi Massal di Kota Bandung: Antara Harapan dan Kenyataan

Kota Bandung baru saja merayakan hari jadi ke-211 pada 25 September lalu. Dalam perayaan tersebut, harapan akan terwujudnya transportasi massal yang nyaman dan terintegrasi menjadi salah satu doa yang dipanjatkan untuk kota yang dikelilingi pegunungan ini.

Di usianya yang sudah lebih dari dua abad, Bandung mengalami banyak perubahan. Meskipun kota ini terus berbenah untuk menjaga daya tariknya, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masalah lalu lintas dan transportasi massal belum menemukan solusi yang efektif. Dua isu ini saling terkait dan hingga saat ini belum ada langkah nyata dari pihak berwenang untuk menyelesaikannya.

Bandung, yang dikenal sebagai Paris van Java, kini menghadapi masalah kemacetan yang semakin parah, terutama pada jam-jam sibuk. Masalah ini diperparah oleh kurangnya kebijakan transportasi yang berpihak pada sistem transportasi umum. Infrastruktur yang dibangun, seperti jalan layang di beberapa titik, hanya berfungsi untuk memindahkan kemacetan dari satu lokasi ke lokasi lainnya, tanpa mengatasi akar masalah.

Salah satu contoh infrastruktur yang dibangun adalah jalan layang di Simpang Kopo dan beberapa titik lainnya, yang memberikan kesan prestisius namun tidak menghasilkan solusi jangka panjang. Sementara itu, pembangunan sistem transportasi massal yang terintegrasi diharapkan dapat dilakukan dalam jangka panjang, meskipun prosesnya mungkin memakan waktu lebih lama.

Pengalaman mengantar seorang teman dari Jakarta yang tidak membawa kendaraan pribadi mengungkapkan betapa sulitnya mencari moda transportasi umum yang efisien di Kota Bandung. Saat ini, kota ini masih sangat bergantung pada angkutan kota (angkot), yang mengharuskan penumpang untuk berpindah-pindah kendaraan untuk mencapai tujuan.

Salah satu harapan baru muncul dengan kehadiran bus Trans Metro Bandung (TMB). Proyek ini, yang diluncurkan sekitar tahun 2009, diharapkan dapat menjadi andalan transportasi umum. Namun, hingga kini, TMB masih berjalan dengan terbatas, dengan armada yang jumlahnya sangat sedikit dan rute yang tidak mencakup seluruh wilayah kota. Halte-halte yang direncanakan menjadi titik keberangkatan TMB pun tidak terawat dan terabaikan.

Selain TMB, terdapat juga bus Damri, namun keduanya belum cukup untuk menyebut diri mereka sebagai tulang punggung transportasi umum di Bandung, mengingat rute dan jam operasional yang masih terbatas. Masyarakat seringkali beralih ke ojek online dan taksi online sebagai alternatif, meskipun biaya yang dikeluarkan bisa cukup tinggi jika digunakan setiap hari.

Bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi, menghadapi kemacetan di Bandung menjadi tantangan tersendiri. Meskipun kota ini dikenal sebagai pusat kreatif dan pendidikan, masalah transportasi umum yang belum teratasi menunjukkan bahwa Bandung masih tertinggal dalam hal layanan transportasi. Dengan kondisi yang ada, sulit untuk tidak mengatakan bahwa sistem transportasi umum di kota ini masih sangat memprihatinkan.

Selamat ulang tahun, Kota Bandung! Semoga harapan akan transportasi massal yang lebih baik dapat segera terwujud.