Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla
Titik Sentris

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla

Sentris Media - Buku karya Remy Sylado, Inani Keke dan Trabar Batalla, menjadi alternatif segar di tengah dominasi fiksi sejarah Jawa-sentris dalam dunia perbukuan Indonesia. Karya ini sebelumnya dianggap sebagai budaya rendah oleh kalangan elitis pada zamannya.

Awal Kejadian

Ketika banyak penulis fiksi sejarah terfokus pada narasi kolonial di Pulau Jawa, Remy Sylado memperkenalkan perspektif baru dengan membawa pembaca ke abad ke-16 di pesisir Teluk Minahasa. Melalui karya ini, ia mengeksplorasi sisi lain sejarah kolonial Indonesia, yakni kehadiran bangsa Spanyol.

Perkembangan

Dalam kedua novel tersebut, Remy menggambarkan suasana pesisir yang liar, mengambil setting di benteng El Amoran. Ia mengeksplorasi isu identitas melalui tokoh utama bernama Pepito, seorang Mestizo yang terjebak dalam dualitas identitas sebagai keturunan campuran Spanyol dan pribumi. Kontradiksi ini menciptakan potret krisis identitas yang relevan hingga saat ini.

Remy juga menunjukkan peran ibu dalam narasi, di mana karakter Isabella, ibu Pepito, menghadapi penderitaan di tangan suaminya yang kejam, menciptakan narasi penindasan yang melampaui batas ras. Dalam hal bahasa, Remy berani mencampurkan dialog berbahasa Spanyol dan Melayu-Manado dengan idiom-idiom bahasa Jawa, mencerminkan hibriditas budaya yang ada.

Konflik dalam cerita diselesaikan melalui cara yang lebih maskulin, di mana Pepito menghadapi musuhnya dalam duel fisik, menggambarkan cara penyelesaian masalah yang khas di era kolonisasi awal.

Kondisi Terakhir

Karya Remy Sylado ini, meskipun sempat dipandang sebelah mata, kini dianggap sebagai harta karun sastra. Rilis ulang kedua novel ini diharapkan dapat memperkenalkan kembali kepada khalayak, menegaskan pentingnya karya-karya yang sempat dianggap sebagai “budaya rendah” dalam konteks sejarah sastra Indonesia.

You can share this post!