Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla
Titik Sentris

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla

Sentris Media - Buku karya Remy Sylado, Inani Keke dan Trabar Batalla, menghadirkan perspektif baru dalam fiksi sejarah yang selama ini didominasi narasi Jawa-sentris. Karya ini pernah dianggap sebagai budaya rendah oleh sebagian kalangan elit pada masanya.

Awal Kejadian

Hampir seluruh karya fiksi sejarah di Indonesia berfokus pada narasi yang berkisar di Pulau Jawa pada abad ke-19 dan 20, sering kali mengulang tema-tema kolonial seperti tanam paksa dan perjuangan melawan Jepang. Dalam konteks ini, buku-buku seperti Tetralogi Buru oleh Pramoedya Ananta Toer dan karya Y.B. Mangunwijaya menjadi standar sastra yang diakui. Namun, Remy Sylado menawarkan sesuatu yang berbeda dengan mengangkat latar belakang sejarah yang jarang dieksplorasi, yaitu kepulauan lain di Indonesia sebelum kedatangan Belanda.

Perkembangan

Inani Keke (1966) dan Trabar Batalla (1968) membawa pembaca ke abad ke-16 di pesisir Teluk Minahasa, menggambarkan kehadiran bangsa Spanyol yang sering kali diabaikan dalam narasi sejarah Indonesia. Karya ini menampilkan tokoh utama, Pepito, seorang Mestizo yang terjebak dalam krisis identitas. Dalam konteks sosial yang rumit, Pepito menjadi simbol dari ketidakpastian identitas, terpinggirkan baik oleh kolonial Spanyol maupun oleh masyarakat lokal yang meragukannya. Konflik yang dihadapi Pepito mencakup lebih dari sekadar persoalan administratif; ia bersifat lebih personal dan emosional.

Kondisi Terakhir

Karya Remy tidak hanya menawarkan cerita yang menarik, tetapi juga pendekatan inovatif dalam bentuk fisik buku. Remy menyisipkan elemen visual, termasuk foto-foto yang menggambarkan adegan dari cerita, menjadikannya pelopor dalam sastra multimodal. Meskipun pernah dianggap sebagai roman picisan, karya-karya ini kini diakui sebagai harta karun sastra yang berharga. Pada 15 Mei 2026, Shira Media merilis ulang kedua karya tersebut, memberikan kesempatan bagi generasi baru untuk menyelami narasi sejarah yang jarang dibahas.

You can share this post!