Proyek OBOR Cina Dinilai Memiliki Potensi untuk Kepentingan Militer
Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Asia Society Policy Institute (ASPI), sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa proyek infrastruktur Cina, Belt and Road Initiative (OBOR), berpotensi digunakan untuk kepentingan militer. Laporan tersebut menyatakan bahwa Cina dapat memanfaatkan proyek-proyek infrastruktur ini tidak hanya untuk tujuan komersial, tetapi juga untuk memperkuat posisinya secara strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Laporan yang dirilis pada hari Selasa tersebut menyebutkan bahwa Cina berupaya menciptakan “ekosistem perdagangan, teknologi, keuangan, dan kekuatan strategis Sino-sentris.” Tujuannya adalah untuk mengurangi pengaruh dan peran Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan di kawasan tersebut.
Dalam laporannya, ASPI memberikan contoh konkret terkait pembangunan pelabuhan komersial yang dapat berfungsi memenuhi kebutuhan pertahanan nasional. Proyek ini mencakup ekspor jaringan satelit BeiDou, serta peningkatan latihan militer dan penjualan senjata dengan negara-negara yang terlibat dalam proyek OBOR, seperti Sri Lanka, Pakistan, Myanmar, dan Kamboja.
Lebih lanjut, laporan tersebut menyatakan bahwa meskipun Cina belum memiliki pangkalan militer luar negeri yang lengkap, terdapat peluang bagi Amerika Serikat untuk merespons dengan menyediakan program infrastruktur alternatif bersama mitra regional. "Apakah Cina dapat secara efektif ‘mempersenjatai’ proyek ini akan bergantung pada keputusan yang diambil oleh Beijing dan Washington," ungkap laporan tersebut.
Laporan tersebut ditulis oleh Daniel Russel, mantan asisten menteri luar negeri AS untuk urusan Asia Timur dan Pasifik, dan kini menjabat sebagai wakil presiden di lembaga pemikir New York. Ia menyoroti beberapa pelabuhan strategis yang diinvestasikan oleh Cina, termasuk Pelabuhan Gwadar di Pakistan, Pelabuhan Koh Kong di Kamboja, dan Hambantota di Sri Lanka, sebagai contoh fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
"Fasilitas-fasilitas ini ditujukan lebih sebagai titik dukungan logistik hibrida, bukan sebagai pangkalan militer tradisional. Mereka lebih cocok berfungsi sebagai titik pengisian dan pasokan bagi pasukan PLA yang beroperasi di laut," tulis laporan tersebut.
Selain itu, laporan itu mengindikasikan bahwa proyek-proyek ini juga berpotensi meningkatkan ketergantungan ekonomi negara tuan rumah terhadap Cina, sekaligus mengurangi ketergantungan pada teknologi berbasis Barat. Pakistan, misalnya, adalah negara pertama yang diizinkan menggunakan fungsi militer dari satelit BeiDou, dengan lebih dari 30 negara lain juga terlibat dalam penggunaannya untuk tujuan sipil.
Meski demikian, laporan tersebut mencatat bahwa Beijing menghadapi tantangan dalam mendorong agenda ambisiusnya, terutama karena pertumbuhan ekonomi yang melambat akibat pandemi COVID-19. "Masih ada banyak kesempatan bagi Amerika Serikat untuk bersaing dengan Cina dalam hal akses dan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik," katanya, menyerukan kolaborasi dengan negara-negara demokrasi di kawasan seperti India, Australia, dan Jepang.
Ni Feng, direktur studi Amerika di Chinese Academy of Social Sciences, menjelaskan bahwa persepsi terhadap proyek OBOR telah berubah seiring dengan hubungan yang semakin tegang antara Cina dan AS. "Cina perlu melindungi kepentingan luar negerinya seiring dengan pertumbuhan ekonominya," ujarnya. Ni menekankan bahwa langkah-langkah seperti pengawalan kapal sipil oleh armada laut adalah hal yang wajar dalam konteks kebijakan luar negeri.




