Membangun Pendidikan dari Titik Nol di Rote Ndao
Sumber Foto: roolnews.id
Titik Sentris

Membangun Pendidikan dari Titik Nol di Rote Ndao

ROTE NDAO – Di Rote Ndao, titik paling selatan Indonesia, para guru menghadapi tantangan pendidikan yang kerap terasa seperti titik akhir dari kebijakan pendidikan nasional. Namun, sebuah inisiatif yang diprakarsai oleh komunitas anak muda setempat, Rote Bergerak, telah mengubah paradigma tersebut. Diskusi yang diadakan bersama gerakan Bantu Guru Belajar Lagi (BGBL) menunjukkan bahwa titik nol bukanlah akhir, tetapi justru awal dari sebuah perubahan yang signifikan.

Dalam diskusi tersebut, para pegiat BGBL, termasuk Dhoni, Naomi, dan Iksan, menyampaikan pandangan yang sejalan dengan pengalaman para guru di Rote. Naomi menyoroti bahwa pendidikan di Indonesia seringkali bersifat "Jakarta-sentris" dan tidak memperhatikan konteks lokal. Hal ini menjadi validasi atas kenyataan yang dihadapi oleh guru-guru yang mendidik anak-anak Rote dengan kearifan lokal dan budaya yang kaya.

Fokus BGBL pada penguatan guru dan ekosistem pendidikan menjadi angin segar bagi para pendidik. Tantangan yang dihadapi tidak hanya terbatas pada fasilitas fisik, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia. Iksan mencatat pentingnya motivasi, kompetensi, dan dukungan bagi guru. Dengan kehadiran BGBL, para guru merasa didukung untuk belajar dan berbagi, bukan sekadar diajari, sehingga semangat mereka sebagai pendidik kembali terbangun.

Dampak nyata dari kolaborasi ini terlihat di sekolah-sekolah yang menjadi binaan BGBL. Proses pembelajaran yang sebelumnya berjalan seadanya kini menjadi lebih hidup dan variatif. Anak-anak tampak lebih bersemangat dalam belajar, hasil dari pendekatan yang lebih manusiawi, seperti penerapan Disiplin Positif, yang menggantikan metode pengajaran yang keras dengan teladan yang positif. Ini mengingatkan kita bahwa pendidikan yang baik tidak harus dilakukan dengan kekerasan, karena anak adalah peniru ulung dari perilaku orang dewasa di sekitar mereka.

Salah satu momen yang paling membanggakan adalah lahirnya gerakan lokal, Guru Rote Belajar (GRB), yang melibatkan 148 SD dan 61 fasilitator dari 11 kecamatan. GRB menegaskan bahwa masyarakat setempat kini berperan aktif dalam perubahan pendidikan, bukan hanya sebagai objek. Rencana Pesta Pendidikan Rote Malole 2025 diharapkan menjadi perayaan atas kemandirian dan kolaborasi yang terjalin.

Gerakan ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh lokasi geografis, melainkan oleh komitmen untuk terus belajar dan berbagi, serta oleh kemitraan yang kuat antara guru, orang tua, pemerintah, dan komunitas. Seperti yang diungkapkan Naomi, perubahan signifikan dapat muncul dari hal-hal kecil, seperti ruang belajar di rumah atau komunitas. Iksan menambahkan bahwa kesediaan semua pihak untuk belajar bersama adalah tanda terjadinya perubahan yang sesungguhnya.

Dari titik nol di selatan Indonesia, Rote Ndao, para guru tidak hanya berfokus pada pengajaran. Mereka menunjukkan kepada Indonesia bagaimana pendidikan yang berbasis budaya, berdaya, dan berpihak pada anak seharusnya berkembang.