Fenomena Tulisan Arab di Rok Agnes Mo dan Perdebatan Arab Sentris dalam Beragama
Perbincangan di media sosial beberapa waktu lalu sempat ramai setelah beredar foto tulisan Arab pada rok artis Agnes Mo. Tulisan “Al-muttahidah” dalam huruf Arab itu oleh sebagian orang dinilai sebagai penistaan terhadap Islam. Namun, tulisan tersebut disebut sebagai label sebuah produk yang dikaitkan dengan pesan persatuan.
Peristiwa ini kembali menyoroti cara pandang sebagian kalangan yang kerap menumpangtindihkan Islam dengan Arab. Dalam cara pandang tersebut, Islam dan Arab diperlakukan seolah dua hal yang sama: Arab identik dengan Islam.
Pemaknaan itu pada titik tertentu dipahami muncul karena sejumlah persinggungan: Islam lahir di Arab, kitab suci menggunakan bahasa Arab, kiblat berada di Ka’bah, serta beberapa ritual ibadah menggunakan bahasa Arab. Meski demikian, dalam cakupan yang lebih luas, ditegaskan bahwa Islam tidak sama dengan Arab.
Kecenderungan Arabisme dan Indikatornya
Jika dirunut lebih jauh, tumpang tindih antara Islam dan Arab dapat berujung pada kecenderungan yang disebut Arabisme. Arabisme dipahami sebagai cara beragama yang selalu disandarkan pada model Arab, atau anggapan bahwa praktik berislam yang paling benar adalah yang sesuai dengan budaya Arab.
Dalam konteks Indonesia, kecenderungan ini disebut menguat dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah indikator yang kerap dikaitkan dengan gejala tersebut antara lain:
- munculnya kelompok yang menonjolkan atribut seperti sorban dan jubah,
- pengusungan sistem khilafah,
- penggunaan istilah “ana–antum” dalam komunikasi sehari-hari,
- serta pengidolaan Arab—terutama Arab Saudi—sebagai model ideal dalam beragama, termasuk dalam sistem politik dan pemerintahan.
Arabisasi dalam Dakwah
Menurut uraian tersebut, Arabisme pada gilirannya dapat mendorong proses Arabisasi sebagai bagian dari gerakan dakwah. Arabisasi digambarkan sebagai penyebaran dakwah Islam dengan melekatkan atribut dan label Arab secara apa adanya ke dalam budaya non-Arab. Dalam model ini, hal-hal yang tidak sesuai dengan pendekatan tersebut kerap dicap sebagai bid’ah atau sesat.
Meski demikian, di Indonesia gagasan Arabisasi disebut tidak terlalu signifikan, walaupun dilakukan secara getol dan sporadis. Salah satu sebabnya dikaitkan dengan corak awal dakwah Islam di Nusantara yang menekankan kearifan lokal melalui akulturasi.
Pribumisasi dan Karakter Islam di Indonesia
Pola dakwah yang mengedepankan akulturasi itu dalam pandangan Gus Dur disebut sebagai pribumisasi. Pribumisasi berangkat dari asumsi bahwa nilai dan kearifan budaya yang telah ada tidak serta-merta diubah menjadi budaya Islam (Arab). Yang ditekankan adalah bagaimana nilai dan prinsip Islam meresap ke dalam sistem hidup dan budaya masyarakat setempat.
Dalam kerangka ini, Islam Nusantara dipandang sebagai bentuk sublimasi pribumisasi Islam melalui kearifan pribumi masyarakat Indonesia. Karena itu, Islam di Indonesia kerap dikenal dengan model keberislaman yang toleran. Konsep hanafiah al-samhah—kecenderungan untuk tetap lurus sambil menyesuaikan diri dengan tabiat masyarakat—disebut sebagai salah satu karakter dari proses tersebut.
Untuk menggambarkan gagasan itu, digunakan pula istilah Jawa “lenceng galeng”. Lurusnya pematang sawah tidak selalu seperti garis penggaris, melainkan bisa berbelok, menanjak-menurun, bahkan bergelombang. Analogi ini dipakai untuk menjelaskan konsep Islam yang tasamuh, yakni toleran terhadap fenomena pribumi dan lokal.




