Fenomena Bule-sentris di Destinasi Wisata: Saat Keramahan Dipertanyakan
Ungkapan bahwa orang Indonesia dikenal ramah sudah lama beredar dan kerap diulang, bahkan hingga terdengar di berbagai negara. Namun, anggapan tersebut dinilai perlu ditinjau kembali ketika praktik di lapangan menunjukkan adanya perlakuan berbeda terhadap wisatawan asing dibanding pelancong domestik.
Indonesia dengan lanskap dan keragaman budaya yang luas memang wajar menarik banyak pendatang untuk singgah maupun menetap. Di tengah geliat pariwisata itu, muncul kekhawatiran tentang fenomena yang kerap disebut bule-sentris—sebuah kecenderungan mengutamakan turis asing dalam pelayanan atau perhatian, terutama di kawasan wisata yang sudah lama populer.
Bule-sentris dalam konteks perjalanan
Istilah bule-sentris dipahami dalam berbagai makna. Dalam tulisan ini, fenomena tersebut digambarkan melalui contoh-contoh situasi di ranah traveling, yang dinilai lebih mudah memperlihatkan bagaimana perbedaan perlakuan itu terjadi.
Menurut pengamatan penulis, bule-sentris kerap merebak di tempat-tempat yang bersifat touristy dan telah lama menjadi magnet wisata, seperti Bali. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah: dalam bentuk apa bule-sentris muncul di dunia traveling, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kenyamanan perjalanan?
Contoh di pelabuhan: ramah, tapi kepada siapa?
Salah satu contoh datang dari pengalaman di Pelabuhan Kartini, Jepara, Jawa Tengah, saat menunggu kapal menuju Karimunjawa. Seorang ibu pedagang terlihat melambaikan tangan dan menawarkan dagangannya kepada turis asing dengan ramah, sesekali menyelipkan kata-kata berbahasa Inggris.
Namun, ketika pembeli dari dalam negeri datang, layanan tetap diberikan tetapi tanpa antusiasme yang sama. Di saat melayani pembeli lokal, pedagang tersebut masih berusaha memanggil turis asing yang melintas tidak jauh dari lokasi.
Kesaksian lain: kedai kopi di Bali dan pengalaman di Tanjung Bira
Fenomena serupa juga disebut pernah disaksikan travel writer Ariev Rahman. Ia menceritakan pengalamannya di sebuah kedai kopi di Seminyak, Bali, ketika pelayan dinilai lebih cekatan melayani turis asing dibanding pelancong Indonesia.
Ariev juga mengisahkan pengalaman lain saat berwisata ke Tanjung Bira, Sulawesi Selatan. Saat ia memesan teh kemasan beserta segelas es batu, pemilik usaha menyatakan minuman tersebut tidak tersedia. Namun, tak lama kemudian, teh kemasan dengan es batu justru tersaji dalam jumlah banyak ketika sekelompok turis asing datang dan memesan.
Dampak terhadap kenyamanan dan refleksi
Rangkaian pengalaman itu memunculkan pertanyaan tentang makna keramahan yang selama ini dilekatkan pada masyarakat Indonesia. Jika keramahan muncul secara selektif, muncul kesan bahwa seseorang bisa merasa seperti orang asing di negeri sendiri.
Lewat refleksi tersebut, penulis mengingatkan agar sikap ramah terhadap pendatang tetap dijaga, tetapi tidak sampai mengabaikan penghormatan dan perlakuan baik kepada sesama warga. Keramahan, dalam pandangan ini, semestinya tidak bergantung pada asal-usul orang yang dilayani.
- Fenomena bule-sentris digambarkan sebagai kecenderungan mengutamakan turis asing dalam pelayanan di kawasan wisata.
- Contoh yang diangkat meliputi situasi di pelabuhan, kedai kopi di Seminyak, serta pengalaman di Tanjung Bira.
- Isu ini memunculkan refleksi tentang konsistensi keramahan dan dampaknya terhadap kenyamanan pelancong domestik.




