Dua Versi Sejarah Reog Ponorogo: Antara Legenda dan Realitas
Sumber Foto: Pemerintah Kabupaten Ponorogo
Titik Sentris

Dua Versi Sejarah Reog Ponorogo: Antara Legenda dan Realitas

Sejarah Reog Ponorogo memiliki dua versi utama yang berakar dari legenda, yaitu versi Wengker dan Bantarangin. Alip Sugianto, dosen Program Studi Pascasarjana Pedagogi Universitas Muhammadiyah Ponorogo, menjelaskan bahwa penelusuran sejarah seharusnya didasari oleh bukti dan data, meskipun ia mengakui bahwa banyak narasi yang ada saat ini bersifat legendaris akibat keterbatasan budaya tulis pada masa lalu.

Menurut Alip, dari kedua versi tersebut, versi Wengker dianggap paling mendekati pendekatan sejarah. Kisah ini berkisar pada Ki Ageng Kutu, yang menggunakan Reog sebagai media satir terhadap pemerintahan Prabu Brawijaya V, raja Majapahit yang berkuasa antara 1468-1478 Masehi. Dalam narasi ini, Ki Ageng Kutu menyampaikan kritik terhadap penguasa dengan simbol-simbol dalam seni pertunjukan, mencerminkan budaya Jawa yang cenderung menghindari konfrontasi langsung.

Di sisi lain, versi Bantarangin lebih bersifat istana-sentris, menampilkan berbagai tokoh kerajaan. Terdapat klaim yang menyatakan bahwa cerita Reog Ponorogo versi Etan Kali (Wengker) dan Kulon Kali (Bantarangin) memiliki kebenaran yang berbeda. Menurut Alip, perbedaan ini menciptakan dua bentuk pementasan yang berbeda: reog obyog dan reog pertunjukan.

Reog Obyog dan Reog Pertunjukan

Reog obyog merupakan representasi dari versi Wengker dan sering dipentaskan di desa-desa selama acara hajatan atau bersih desa. Pementasan ini lebih bersifat populis, di mana tidak terdapat sekat antara pemain dan penonton. Biasanya, reog obyog diarak keliling kampung, berhenti di titik-titik tertentu untuk beratraksi.

Sementara itu, reog pertunjukan menggambarkan versi Bantarangin dan berkembang seiring dengan kebutuhan pentas resmi. Dalam konteks ini, Reog Ponorogo sering ditampilkan dalam acara berskala nasional dan internasional, dengan penyajian yang lebih terprogram, termasuk koreografi, tata cahaya, dan aransemen musik yang kuat. Nuansa kerajaan lebih menonjol dalam pementasan ini, meskipun ada jarak antara pemain dan penonton.

Alip menekankan bahwa perbedaan antara reog obyog dan reog pertunjukan tidak hanya dapat dipandang sebagai bentuk lama dan baru. Keduanya merupakan ekspresi budaya yang memiliki fungsi dan konteks masing-masing; reog obyog berfungsi sebagai ruang interaksi sosial dan ritual, sedangkan reog pertunjukan berfungsi sebagai representasi identitas budaya di ruang publik dan panggung festival.

Ia juga mencatat adanya campur tangan pemerintah daerah yang berupaya mencegah klaim sepihak mengenai sejarah Reog Ponorogo, dengan menggabungkan kedua versi dalam satu referensi bersama. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga kerukunan dan keutuhan masyarakat, serta menghindari gesekan yang mungkin timbul akibat perbedaan pandangan.

Alip menegaskan bahwa keberagaman bentuk dan versi Reog Ponorogo adalah kekuatan budaya daerah. Baik reog obyog maupun reog pertunjukan merupakan bagian dari aset budaya tak benda yang perlu dijaga dan dikembangkan secara bersamaan. Sejarah Reog Ponorogo tidak dapat dipahami melalui satu narasi tunggal, melainkan harus dilihat dalam konteks sosial dan kebutuhan zaman yang berbeda-beda. Yang terpenting adalah menjaga karakter Ponoragan agar tetap eksis di tengah arus modernisasi.