DPRD Buleleng Desak Pemerataan Pembangunan di Luar Singaraja
SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Rencana pembangunan di Buleleng untuk tahun 2026 dinilai terlalu berfokus pada kawasan Singaraja, mengakibatkan daerah-daerah pinggiran dan pedesaan semakin tertinggal dalam hal pembangunan. Anggota DPRD Buleleng menekankan pentingnya pemerataan pembangunan agar seluruh wilayah, termasuk kawasan perdesaan, turut merasakan dampak positif dari proyek yang direncanakan.
Dalam dokumen perencanaan Pemkab Buleleng, terdapat beberapa proyek besar yang akan dilaksanakan di Kota Singaraja, seperti revitalisasi RSUD Buleleng, penataan titik nol Kota Singaraja, penataan kawasan Pelabuhan Tua Buleleng, serta pengembangan kawasan pariwisata Lovina. Proyek-proyek ini diperkirakan akan memerlukan dana ratusan miliar rupiah, dan pemerintah berencana untuk mengajukan pinjaman daerah ke BPD Bali guna menutupi biaya tersebut.
Anggota DPRD Buleleng, Dewa Komang Yudi Astara, mengungkapkan keprihatinannya terhadap ketidakmerataan pembangunan yang masih terfokus di Singaraja. Ia menilai bahwa program-program yang disusun oleh pemerintah tidak cukup menjangkau pembangunan antar wilayah, terutama di tingkat kecamatan dan desa. "Kami meminta agar dilakukan realokasi program atau anggaran, agar ada program yang mendorong peningkatan ekonomi hingga ke tingkat desa," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Komisi II DPRD Buleleng, Wayan Masdana. Ia menyoroti bahwa usulan-usulan yang disampaikan oleh pemerintah desa sering kali tidak mendapatkan perhatian di tingkat kabupaten. "Setiap musrenbang, desa selalu mengajukan program. Tapi tidak ada yang diakomodasi. Kami harap ada satu program saja yang bisa menyentuh masing-masing kecamatan," kata Masdana.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Buleleng, Gede Suyasa, mengklaim bahwa rencana pembangunan tahun depan telah mempertimbangkan aspek pemerataan, proporsionalitas, serta skala prioritas. Suyasa menegaskan bahwa program infrastruktur pada tahun 2026 akan lebih banyak menyentuh kawasan pedesaan, terutama pada jalur-jalur jalan menuju objek wisata. "Bisa dilihat nanti, jalan-jalan yang diperbaiki itu bukan di kota, tapi jalan-jalan di desa, menuju objek wisata. Begitu juga perbaikan lampu penerangan jalan, menyentuhnya juga di pedesaan," jelas Suyasa.
Namun, program pembangunan yang memerlukan pinjaman daerah, seperti revitalisasi RSUD Buleleng, akan tetap menjadi fokus utama pemerintah.




