Feri Amsari: Aktivis Hukum dan Dosen yang Berpengaruh di Dunia Demokrasi Indonesia
Feri Amsari merupakan pakar hukum tata negara, dosen, sekaligus aktivis hukum dan akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand).
Ia dikenal sebagai intelektual publik yang kritis terhadap berbagai persoalan hukum dan politik di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan korupsi, pemilu, dan ketatanegaraan.
Selain aktif mengajar dan meneliti, Feri Amsari juga rutin menulis opini di media nasional, terlibat dalam kajian akademik, serta kerap hadir sebagai narasumber diskusi publik untuk mengulas kebijakan negara dan praktik kekuasaan dari perspektif konstitusi.
Biodata Feri Amsari
Nama lengkap: Feri Amsari, S.H., M.H., LL.M.
Tempat, tanggal lahir: Padang, Sumatera Barat, 2 Oktober 1980
Agama: Islam
Istri: Chitra Afsari
Anak: Kiranaesha Omera, Qotrunada Autumn, dan Shahzain Abdurrahman
Pekerjaan: Akademisi, Pakar Hukum Tata Negara, Aktivis Demokrasi
Jabatan: Dosen Hukum Tata Negara, Mantan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Unand (2017-2023), Managing Partner Themis Indonesia, Peneliti PoshDem
Media sosial: @feriamsari (Instagram)
Nama Feri Amsari kemudian semakin mendapat perhatian luas setelah keterlibatannya dalam film dokumenter Dirty Vote (2024).
Dokumenter tersebut membahas dugaan pembiaran pelanggaran serta penggunaan instrumen kekuasaan dalam Pemilu 2024, dan berhasil menarik jutaan penonton di YouTube, sekaligus memicu perbincangan nasional menjelang hari pemungutan suara.
Riwayat Pendidikan Feri Amsari
SD: SD Inpres Pegambiran Padang (hingga kelas 3), SDN 290 Muara Bungo (lulus 1993)
SMP: SMPN 1 Muara Bungo (lulus 1996)
SMA: SMAN 1 Muara Bungo (lulus 1999)
S1 Hukum (S.H.): Universitas Andalas (2004) - Skripsi: Tugas dan Kewenangan Komisi Konstitusi dalam Amandemen UUD 1945
S2 Hukum (M.H.): Universitas Andalas (2008, cum laude, IPK 3,9) - Tesis: Perubahan UUD 1945 Melalui Penafsiran Mahkamah Konstitusi
Master of Laws (LL.M.): William & Mary Law School (2014) - Konsentrasi: Perbandingan Hukum Amerika-Asia
Perjalanan Karier Feri Amsari
Feri Amsari memulai karier profesionalnya di dunia akademik setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Andalas pada tahun 2004.
Pada tahun yang sama, ia mulai mengabdi sebagai dosen Hukum Tata Negara, bidang yang kemudian menjadi fokus utama pengajaran, riset, dan advokasinya hingga kini.
Sejak awal berkarier, Feri Amsari dikenal sebagai akademisi yang tidak membatasi diri pada ruang kelas.
Ia aktif mengaitkan kajian hukum tata negara dengan praktik kekuasaan, dinamika politik, serta persoalan demokrasi elektoral di Indonesia.
Latar belakangnya sebagai aktivis mahasiswa, termasuk pernah memimpin BEM dan DPM Fakultas Hukum Unand, membentuk karakter akademiknya yang kritis dan berorientasi pada kepentingan publik.
Peran strategis Feri Amsari semakin menonjol ketika dipercaya memimpin Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas sebagai Direktur selama periode 2017-2023.
Di bawah kepemimpinannya, PUSaKO berkembang menjadi salah satu pusat kajian konstitusi paling aktif dan berpengaruh, terutama dalam:
Analisis dan kajian kritis terhadap undang-undang strategis
Pendampingan dan penyusunan uji materi undang-undang di Mahkamah Konstitusi
Advokasi isu demokrasi, pemilu, dan partai politik
Penguatan agenda antikorupsi dan tata kelola pemerintahan yang baik
Di luar kampus, Feri Amsari juga berperan sebagai peneliti kebijakan, Managing Partner Themis Indonesia, serta peneliti di PoshDem.
Ia sempat terlibat dalam Tim Percepatan Reformasi Hukum Kemenko Polhukam, sekaligus rutin menjadi pembicara dalam forum akademik, seminar nasional, dan diskusi internasional.
Peran dalam Film Dokumenter Dirty Vote (2024)
Nama Feri Amsari semakin dikenal luas publik setelah tampil dalam film dokumenter Dirty Vote, yang dirilis pada 11 Februari 2024, beberapa hari menjelang Pemilu 2024.
Dokumenter ini membedah dugaan penyalahgunaan instrumen kekuasaan serta praktik yang berpotensi merusak integritas pemilu dan demokrasi.
Dalam film tersebut, Feri Amsari tampil bersama dua pakar hukum tata negara lainnya, yakni Bivitri Susanti dan Zainal Arifin Mochtar.
Ketiganya memaparkan temuan dan analisis berbasis data mengenai:
Pemanfaatan kekuasaan untuk kepentingan elektoral
Pola pelanggaran pemilu yang dianggap dinormalisasi
Ancaman terhadap prinsip keadilan dan konstitusionalitas pemilu
Pendekatan yang digunakan Feri Amsari dalam dokumenter ini bersifat akademik, argumentatif, dan berbasis kajian hukum, sehingga memperkuat bobot kritik yang disampaikan.
Dokumenter Dirty Vote sendiri berhasil meraih jutaan penonton di YouTube dan memicu diskusi luas di ruang publik terkait kualitas demokrasi dan penyelenggaraan Pemilu 2024.
Penghargaan, Publikasi, dan Karya Tulis Feri Amsari
Berdasarkan informasi data yang dikutip dari Tokoh.id, berikut adalah deretan penghargaan, publikasi, dan karya tulis dari Feri Amasari:
Penghargaan
Tokoh Minang Nasional Pejuang Demokrasi - Anugerah Padang TV, diterima pada 3 Maret 2024
Karya Akademik (Skripsi dan Tesis)
Tugas dan Kewenangan Komisi Konstitusi dalam Mekanisme Amandemen UUD 1945 (2004)
Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 Melalui Penafsiran oleh Mahkamah Konstitusi (2008)
Buku dan Kontribusi Buku
Perubahan UUD 1945 melalui Putusan Mahkamah Konstitusi (Rajawali Press, dalam proses terbit)
Hukum Acara Mahkamah Konstitusi (Sekjen & Kepaniteraan MK RI, 2009)
Membangun Indonesia dari Daerah: Partisipasi Publik dan Politik Anggaran Daerah (JICA-CSIS, 2007 - kontributor)
Pemilu Serentak (2014)
Proses Seleksi Hakim (2015)
Jurnal Ilmiah Nasional & Internasional
Kajian Putusan Korupsi DPRD Kota Padang - Jurnal Yudisial (2007)
Masa Depan Mahkamah Konstitusi: Teori dan Implementasi - Jurnal Konstitusi MK RI (2008)
Perubahan Konstitusi Melalui Tafsir MK - Jurnal Konstitusi PUSaKO (2008)
Memangkas Korupsi Pemilu - Jurnal Konstitusi (2009)
Obstruction of Justice in the Effort to Eradicate Corruption in Indonesia - International Journal of Law, Crime, and Justice (2017)
Penelitian & Karya Ilmiah Lain
Penanaman Modal yang Berpihak kepada Masyarakat Adat dan Investor (Rispro LPDP, 2017)
Konstitusionalitas Hak Asal-Usul Masyarakat Adat (Universitas Andalas, 2017)
Pembaharuan Partai Politik (2016)
Putusan Hakim Terkait Sekte Agama (Komisi Yudisial, 2010)
Sinergitas Ninik Mamak dan Aparat Kepolisian dalam Penyelesaian Konflik Hukum Pidana di Sumatera Barat (2015)
Tulisan Opini di Media Nasional
Kompas: Umur Pendek Ketua KPK, Madu untuk KPK? dan Tong Sampah Century
Tempo, Majalah Konstitusi, Media Indonesia
Padang Ekspres: Memilih dengan Cinta, Korupsi dan Pemilu 2009, Zona Nyaman Saldi Singgalang, Haluan, Mimbar Minang
Fakta-Fakta Menarik Feri Amsari
Berikut adalah fakta-fakta menarik yang perlu Anda ketahui tentang Feri Amsari:
Aktivis mahasiswa sejak dini: Sejak masa kuliah di Fakultas Hukum Universitas Andalas, Feri Amsari aktif dalam gerakan mahasiswa dan pernah memimpin BEM serta DPM FH Unand.
Penggerak gerakan antikorupsi daerah: Ia dikenal sebagai salah satu pendiri dan motor penggerak berbagai forum dan aliansi antikorupsi di Sumatera Barat, jauh sebelum isu ini menjadi arus utama di tingkat nasional.
Kritikus kekuasaan lintas rezim: Feri Amsari konsisten menyuarakan kritik terhadap praktik penyalahgunaan kekuasaan tanpa terikat kepentingan politik, baik di era pemerintahan lama maupun pemerintahan baru.
Aktif mengawal uji materi undang-undang: Ia kerap terlibat dalam penyusunan, pengajuan, dan pengawalan judicial review undang-undang di Mahkamah Konstitusi, terutama yang dinilai bermasalah secara konstitusional.
Rekam jejak akademik terukur: Dalam dunia akademik, Feri memiliki H-Index Google Scholar 13, mencerminkan pengaruh dan sitasi karyanya dalam kajian hukum tata negara dan demokrasi.
Penghargaan nasional: Pada tahun 2024, Feri Amsari menerima Anugerah Tokoh Minang Nasional Pejuang Demokrasi, sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam menjaga nilai-nilai konstitusi dan demokrasi di Indonesia.
Kekayaan Feri Amsari
Terkait kekayaan, tidak terdapat informasi resmi maupun detail yang mengungkap jumlah kekayaan Feri Amsari secara terbuka.
Meski demikian, di era digital, akun YouTube Feri Amsari juga menjadi salah satu sumber pemasukan tambahan.
Berdasarkan data Social Blade, kanal YouTube miliknya memiliki sekitar 90 ribu subscribers, total 6,7 juta views, dengan 327 video, dan aktif sejak 3 November 2011.
Social Blade memperkirakan pendapatan kanal tersebut berada di kisaran US$3-US$55 per bulan, atau setara dengan Rp50 ribu-Rp919 ribu, menggunakan kurs Rp16.686,94 per dolar AS (17/12/2025).
Sementara itu, estimasi pendapatan per tahun berada pada kisaran US$817-US$13 ribu, atau sekitar Rp13,6 juta-Rp216,9 juta per tahun berdasarkan kurs yang sama.
Angka ini bersifat perkiraan algoritmik, bukan laporan resmi, dan dapat berubah tergantung performa konten serta trafik penonton.
Kumpulan Foto Feri Amsari
.
.




