Yen Jepang Tertekan di Tengah Sentimen Positif; Kenaikan Suku Bunga BoJ Dapat Batasi Pelemahan
Sumber Foto: fxstreet-id.com
Nada Tengah

Yen Jepang Tertekan di Tengah Sentimen Positif; Kenaikan Suku Bunga BoJ Dapat Batasi Pelemahan

Yen Jepang (JPY) mengalami tekanan dalam perdagangan harian menjelang sesi Eropa pada hari Selasa, seiring dengan sentimen positif yang menyelimuti pasar ekuitas. Hal ini cenderung mengurangi permintaan terhadap aset-aset safe-haven, termasuk yen. Meskipun demikian, potensi penurunan lebih lanjut bagi JPY tampaknya akan terbatasi oleh ekspektasi yang meningkat terhadap kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) yang akan segera dilakukan, terutama setelah pernyataan Gubernur Kazuo Ueda pada hari Senin.

Dalam konteks ini, spekulasi mengenai kemungkinan intervensi oleh otoritas Jepang untuk menghentikan pelemahan lebih lanjut pada mata uang domestik juga menambah kehati-hatian di kalangan para penjual JPY. Sementara itu, dolar AS (USD) berusaha untuk menarik lebih banyak pembeli, meskipun dalam posisi defensif, di tengah spekulasi mengenai pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed) pada bulan ini. Hal ini dapat membatasi kenaikan pasangan mata uang USD/JPY.

Pasar saham Asia menunjukkan pemulihan moderat setelah penurunan tajam pada hari sebelumnya, yang berkontribusi pada aksi jual di sekitar yen Jepang. Lonjakan dolar AS membantu pasangan mata uang USD/JPY mencapai level terendah dua minggu di angka 154,65. Gubernur BoJ, Kazuo Ueda, memberikan sinyal bahwa prospek ekonomi dan inflasi semakin mendukung normalisasi kebijakan moneter. Inflasi di Jepang telah berada di atas target 2% selama lebih dari tiga tahun, memperkuat argumen untuk pengetatan kebijakan.

Pergerakan ini menyebabkan trader memperkirakan peluang sekitar 80% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan BoJ yang akan berlangsung pada 18-19 Desember, meningkat dari sekitar 60% sebelumnya. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor dua tahun mencapai 1% untuk pertama kalinya sejak Juni 2008, sementara imbal hasil bertenor 30 tahun juga mencatatkan rekor tertinggi. Kenaikan ini mendukung harapan akan terjadinya aksi beli di sekitar yen.

Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengungkapkan bahwa pergerakan liar di pasar valuta asing dan pelemahan yen yang cepat tidak didorong oleh fundamental ekonomi yang kuat, memicu spekulasi tentang kemungkinan intervensi pemerintah untuk menghentikan penurunan lebih lanjut. Di sisi lain, dolar AS mengalami penurunan ke level terendah dua minggu setelah data Indeks PMI Manufaktur Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan angka yang lebih rendah dari yang diharapkan, menandakan perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi AS.

Seiring mendekati keputusan suku bunga The Fed minggu depan, investor akan menanti rilis Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) AS, yang merupakan pengukur inflasi yang diperhatikan oleh bank sentral. Namun, ketidakpastian masih ada karena tidak adanya laporan resmi tentang tenaga kerja akibat penutupan pemerintah federal baru-baru ini.

Dalam hal analisis teknis, pasangan mata uang USD/JPY tengah berada dalam fase penurunan setelah mencapai level tertinggi 158,00 bulan lalu. Lonjakan terbaru mengonfirmasi dukungan dari channel tren yang menurun, dengan level Fibonacci retracement 61,8% berfungsi sebagai titik kritis. Penembusan di bawah level ini dapat menjadi sinyal bagi trader bearish untuk melanjutkan tren menurun, sementara level psikologis 155,00 dapat menjadi batas bawah langsung.

Setiap pergerakan naik di atas level saat ini kemungkinan akan menghadapi resistensi kuat di sekitar 156,00, yang merupakan batas atas channel tren. Penguatan berkelanjutan di atas level tersebut dapat memicu rally dan mengangkat pasangan mata uang ini menuju level antara 156,60-156,65, dengan target akhir di 157,00.