Yen Jepang Melemah di Tengah Ketidakpastian Kenaikan Suku Bunga dan Risiko Fiskal
Yen Jepang (JPY) mengalami penurunan nilai terhadap Dolar AS selama sesi perdagangan Asia pada hari Selasa, mengakhiri pemulihan yang telah terjadi sebelumnya dari level terendah hampir dua minggu. Meskipun Bank of Japan (BoJ) menunjukkan pandangan hawkish, ketidakpastian mengenai waktu tepat kenaikan suku bunga berikutnya tetap membayangi pasar. Kekhawatiran terhadap situasi fiskal dan nada risiko yang positif juga turut melemahkan JPY, yang dikenal sebagai mata uang safe-haven.
Pasangan USD/JPY bertahan stabil di sekitar level 156,00-an. Para trader di pasar tampak hati-hati dalam mengambil posisi jual pada JPY mengingat kombinasi faktor yang mempengaruhi pergerakan mata uang ini. Ekspektasi hawkish dari BoJ menjadi salah satu pendorong, meskipun ada juga perbedaan pandangan yang signifikan dibandingkan dengan Federal Reserve (Fed) AS yang cenderung mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Ketidakpastian ini muncul di tengah spekulasi bahwa pemerintah Jepang akan melakukan intervensi untuk menghentikan pelemahan yen, serta prospek pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh BoJ. Para trader cenderung menunggu rilis laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan pada hari Jumat sebelum menentukan arah taruhan baru di pasangan USD/JPY.
Ketidakpastian di Tengah Pandangan Fiskal yang Beragam
Para investor menilai laju pengetatan kebijakan yang akan diambil oleh BoJ, di mana ekspektasi subsidi energi, stabilitas harga beras, dan rendahnya biaya minyak diproyeksikan akan menjaga inflasi tetap rendah hingga tahun 2026. Rencana belanja besar Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk merangsang pertumbuhan juga menambah kekhawatiran fiskal.
Gubernur BoJ, Kazuo Ueda, menyatakan bahwa bank sentral akan terus menaikkan suku bunga jika perkembangan ekonomi dan harga sesuai dengan perkiraannya. Ueda menekankan bahwa penyesuaian tingkat dukungan moneter akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, di mana upah dan harga diharapkan meningkat secara moderat. Pandangan hawkish ini telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor dua tahun mencapai level tertinggi sejak 1996 dan imbal hasil JGB 10 tahun mencapai titik tertinggi sejak 1999.
Pergeseran Dolar AS dan Menunggu Rilis Data Penting
Sementara itu, Dolar AS berupaya untuk memperpanjang penurunan dari level tertinggi hampir empat minggu, seiring meningkatnya ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan oleh Federal Reserve. Para trader memprediksi kemungkinan Fed akan menurunkan suku bunga pada bulan Maret dan mungkin melakukan pemangkasan lainnya di akhir tahun ini. Data PMI AS yang beragam untuk bulan Desember 2025 menambah kompleksitas situasi ini.
PMI Manufaktur S&P Global AS tetap stabil di 51,8, menunjukkan adanya ekspansi, namun PMI Manufaktur Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan tanda-tanda kontraksi dengan penurunan menjadi 47,9 dari 48,2 pada bulan November. Hal ini membuat para pembeli Dolar AS berada dalam posisi defensif selama sesi Asia pada hari Selasa.
Prospek Pasar dan Analisis Teknikal
Para trader kini menunggu rilis laporan Nonfarm Payrolls AS yang akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter Fed ke depan. Data ini diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai jalur pemangkasan suku bunga yang akan mempengaruhi pergerakan Dolar AS dan, pada gilirannya, memberikan arah baru bagi pasangan USD/JPY.
Secara teknikal, pasangan USD/JPY dapat menemukan support di dekat batas bawah channel ascending jangka pendek. Moving averages jangka pendek menunjukkan konsolidasi, sementara indikator MACD menunjukkan tekanan bearish yang mulai memudar. Penembusan di atas batas channel di 157,16 dapat membuka kemungkinan langkah lebih tinggi, sementara kegagalan menarik tawaran lanjutan dapat menyeret pasangan ini kembali menuju batas bawah channel.




