Yayasan Shandong Bandung: Menggenggam Warisan Kebijaksanaan untuk Masyarakat
Sumber Foto: Pikiran Rakyat Koran
Lifestyle

Yayasan Shandong Bandung: Menggenggam Warisan Kebijaksanaan untuk Masyarakat

KORAN-PIKIRAN RAKYAT – Di lembar-lembar emas epos Tiongkok kuno, terukir sebuah tradisi agung yang pantang ditanggalkan. Tradisi itu yakni tak seorang pun kaisar atau raja berani menduduki singgasana sebelum berziarah dan memohon petuah ke Tanah Shandong.

Provinsi yang terletak di pesisir timur Tiongkok ini memang tidak mencetak namanya sebagai lumbung para konglomerat, bukan pula sarang para diktator penakluk. Shandong adalah rahim peradaban bagi lahir­nya para cendekiawan, filsuf agung, dan empu strategi perang.

Di tanah itulah, nama-nama besar nan abadi seperti Konfusius (Kong Hu Cu) dan Sun Tzu mengawali helaan napasnya. Pemikiran merekalah yang merancang taktik para jenderal di medan laga dan membimbing nurani para penguasa di istana.

Kini, melintasi ruang waktu dan ribuan kilometer dari tanah kelahirannya, kebijaksanaan luhur para pemikir itu pantang pudar. Ia terus berdenyut, mewujud dalam nadi Yayasan Shandong di Kota Bandung.

​Tongkat estafet kebijaksanaan tersebut kini tergenggam di tangan Dr. Petrina Faustine, M.M., MSc., yang mengemban amanah sebagai Ketua Yayasan Shandong Kota Bandung. Bagi Petrina, darah Shandong yang mengalir di nadinya bukan sekadar identitas geografis di atas secarik dokumen keimigrasian di masa lampau, melainkan sebuah pewarisan karakter pemikir yang teramat kental.

​"Kami dari Provinsi Shandong memang lebih terkenal karena filsufnya, seperti Sun Tzu dan Kong Hu Cu. Seluruh dunia kenal," tutur Petrina saat berbincang khusus dengan “PR”, pekan lalu.

Tujuan Wisata

​Sejarah mencatat, para jenderal perang di masa lampau mayoritas adalah orang-orang Shandong karena kepiawaian mereka dalam meramu strategi. Namun, ada satu paradoks yang menarik dari para pemikir ini.

​"Mereka tidak pernah menjadi raja, karena saking pintarnya justru menjadi semacam barrier (penghalang). Namun kalau minta saran, raja-raja pasti datang ke Shandong," katanya tersenyum, menyiratkan kebanggaan pada identitas leluhurnya yang lebih memilih menjadi "otak" di balik layar ketimbang penguasa di panggung utama.

Fondasi

Eksistensi warga keturunan Shandong di ibu kota Jawa Barat ini sejatinya meniti linimasa sejarah yang teramat panjang. Jauh sebelum Yayasan Shandong dikukuhkan secara legal-formal pada tahun 1976, fondasi komunitas ini telah ditanamkan dengan peluh dan kerja keras sejak 1946 oleh ayahanda Petrina beserta kawan-kawan seperjuangannya.

​Di kawasan sentra niaga Alkateri yang legendaris, mereka membangun peradaban ekonomi skala menengah. Dari gulungan kain gorden, deru mesin rajut, hingga lembaran-lembaran tekstil, urat nadi perekonomian keluarga-keluarga Shandong di Bandung mulai berdetak.