Upaya Melestarikan Musik Wayang Sasak di Era Modern
Suara suling yang nyaring menggema dalam ruang Sanggar Tari di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat (13/12/2025). Melodi yang dihasilkan seolah mengajak kembali mengingat tradisi yang perlahan-lahan tergerus oleh perkembangan zaman.
Amaq Su, seorang pemain suling Wayang Sasak yang berpengalaman, dengan cekatan memainkan alat musik tradisionalnya. Ia mengiringi penampilan Dalang Wayang Sasak, Safwan, dalam acara Sangkep bertajuk "Memetakan Nada Nada Musik Wayang Sasak dengan Sistem Pelarasan Microtones". Pengalaman tersebut menjadi momen penting bagi Amaq Su, yang telah mengabdikan diri selama puluhan tahun dalam pertunjukan seni tradisional.
Namun, hari itu menjadi sedikit berbeda baginya. Ia terlihat canggung saat mencoba menggabungkan suara suling dengan petikan gitar modern yang dimainkan oleh Adya Amru Hidayat, seorang peneliti musik. Meskipun awalnya perpaduan tersebut terasa asing, keduanya akhirnya menemukan harmoni yang selaras.
“Pengalaman yang berbeda main suling Wayang Sasak dengan dijelaskan tangga nada,” ungkap Amaq Su, yang mengenakan capuk, ikat kepala khas Lombok. Ia mengaku selama ini hanya mengandalkan intuisi dan pendengarannya dalam bermain musik, tanpa pemahaman sistem nada yang tertulis.
“Biasanya cuma dengar, lalu mengisi. Semoga dengan ada anak-anak yang belajar musik ini, musik Wayang Sasak bisa lebih cepat dipahami,” ungkapnya penuh harap.
Penurunan Generasi Pemain Musik Tradisi
Jumlah generasi pemain instrumen Wayang Sasak semakin menyusut. Kendala dalam mencari nada yang baku dan ketiadaan pakem tertulis yang dapat dipelajari secara bersama menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, generasi muda saat ini lebih terpapar oleh musik industri modern yang membuat mereka semakin jauh dari tradisi.
Kekhawatiran ini mendorong Adya Amru Hidayat untuk melakukan penelitian mengenai nada musik Wayang Sasak, dengan harapan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Ia mencatat, “Anak-anak muda sekarang itu sudah terdistorsi sama alat musik barat.”
Amru menyatakan keprihatinannya, karena sebelum pengetahuan tentang musik tradisi ini dapat diwariskan, ada kemungkinan bahwa para maestro tradisi akan pergi terlebih dahulu.




