UMPR Luncurkan Program Vokasi D-1 untuk Tingkatkan SDM di Kalteng
Sumber Foto: Mata Kalteng
Lifestyle

UMPR Luncurkan Program Vokasi D-1 untuk Tingkatkan SDM di Kalteng

PALANGKA RAYA – Program vokasi Diploma 1 (D-1) yang digagas Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mendapat sambutan dari Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR). Rektor UMPR, Assoc Prof Dr H Muhamad Yusuf, S.Sos, M.AP, menilai skema tersebut relevan dengan kebutuhan riil masyarakat Kalteng, khususnya di wilayah desa dan pedalaman.

Menurut Yusuf, karakter sosial masyarakat di daerah membuat pendidikan vokasi satu tahun menjadi solusi rasional. Banyak anak di desa sejak SMP atau SMA sudah diarahkan orang tua untuk segera bekerja dengan orientasi hasil cepat. Sementara pendidikan S1 memerlukan waktu empat tahun yang dinilai terlalu panjang.

“Karena itu D-1 selama satu tahun menjadi jalan tengah. Tidak harus lama, tidak harus sepenuhnya di kelas, dengan komposisi 60 persen praktik dan 40 persen teori,” ujarnya saat melakukan pertemuan dengan media di Kampus 1 UMPR, Senin 23 Februari 2026.

Model pembelajaran dirancang fleksibel. Dosen dan praktisi akan bergerak ke daerah maupun secara mobile, bukan sebaliknya mahasiswa yang harus datang ke kampus. Beberapa titik yang bisa disiapkan antara lain Katingan di Tumbang Samba, Gunung Mas di Kuala Kurun atau Tumbang Jutuh, serta Seruyan di Hanau dan berbagai titik kumpul lainnya.

“Kampus harus beradaptasi dan bergerak,” tegasnya. Direktur Kerja Sama Perguruan Tinggi UMPR, Rakhdinda Artha Qair, menjelaskan program ini dijalankan melalui skema D-1 Akademi Komunitas di bawah UMPR dengan dukungan penuh Pemprov Kalteng.

Program melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP), serta sejumlah dinas terkait. Perkuliahan dilakukan di daerah dengan memanfaatkan fasilitas SMA terdekat untuk teori dan lahan praktik milik pemerintah.

“Mahasiswa tidak perlu ke Palangka Raya. Mereka belajar dekat dengan lokasi kerja,” ujarnya. Sebagai contoh, di Pulang Pisau teori dilakukan di SMA setempat dan praktik di Dadahup. Di Sukamara tersedia 1.000 hektare lahan dengan teori di SMA Pantai Lunci.

“Sementara TPHP menyiapkan 30.000 hektare lahan yang akan diisi lulusan sebagai Brigade Pangan,” jelas Artha. Target 1.000–2.000 mahasiswa telah dihitung berdasarkan ketersediaan lahan praktik, sekolah terdekat, dan kebutuhan tenaga kerja.

Kurikulum difokuskan pada vokasi pertanian, meliputi pemuliaan tanaman dan pembibitan untuk mengurangi ketergantungan bibit dari luar daerah, teknologi pertanian modern seperti penggunaan drone dan pengoperasian alat mesin pertanian (alsintan), hingga mekanisme pasar dan pemasaran hasil.

“Mahasiswa juga dibekali pemahaman konektivitas dengan koperasi, akses perbankan untuk wirausaha, serta branding dan pengemasan produk,” ujarnya. Durasi pendidikan satu tahun dengan pengajar dari dosen internal dan profesional, ditargetkan mulai tahun ajaran ini.

Tahun pertama ditargetkan 1.000 – 2.000 mahasiswa. Jika berhasil, kapasitas akan ditingkatkan dan diperluas ke sektor perikanan dan peternakan. “Sukamara, misalnya, memiliki target swasembada 200 ribu ekor sapi, selain pengembangan food estate, shrimp estate, dan budidaya ikan patin.” Beber Artha

Yusuf menegaskan, program ini langsung berbasis kebutuhan lapangan dengan orientasi tenaga siap pakai. “Fokusnya penguatan SDM sebagai fondasi pembangunan Kalimantan Tengah,” pungkasnya.