Potensi Hilirisasi Kelapa, Gambir, dan CPO Capai Rp15 Ribu Triliun
Sentris Media - Share
Jakarta, SAWIT INDONESIA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, hilirisasi tiga komoditas strategis yakni kelapa, gambir, dan crude palm oil (CPO) berpotensi menghasilkan nilai tambah hingga Rp15 ribu triliun bagi perekonomian nasional.
Menurutnya, hilirisasi merupakan bagian dari kepemimpinan strategis untuk memastikan kekayaan sumber daya alam Indonesia tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, melainkan diolah agar memberikan manfaat maksimal bagi rakyat.
“Seluruh kekayaan kita dihilirisasi. Jangan ekspor mentah. Nilai tambahnya harus untuk rakyat,” ujarnya dalam pernyataan resmi, dikutip Jumat (27/2/2026).
Baca juga: Penerima Beasiswa Sawit INSTIPER Lulus Sebagian Besar Sudah Direkrut Perusahaan
Pada komoditas kelapa, kata dia, peluang hilirisasi semakin terbuka lebar seiring pergeseran pola konsumsi pangan global. Salah satunya terjadi di China, yang mulai beralih dari susu hewani seperti susu sapi dan kambing ke susu nabati berbasis kelapa atau coconut milk.
“Ini coconut milk. Itu ada pergeseran pangan di China, itu dari susu sapi kambing bergeser ke susu yang dari kelapa. Ini nilainya ini total itu bisa potensi Rp5.000 triliun,” kata dia.
Baca juga: Kementan Memperketat Pengawasan Kesiapan Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Menghadapi Ancaman Karhutla
Selain kelapa, Amran juga menyoroti komoditas gambir. Indonesia menguasai sekitar 80 persen bahan baku gambir dunia, namun proses pengolahan lanjutan masih banyak dilakukan di luar negeri.
“Gambir kita diekspor ke India, lalu dijual kembali oleh India ke Amerika. Potensinya bisa mencapai Rp5.000 triliun,” katanya.
Sementara pada komoditas CPO, Indonesia menguasai sekitar 60–70 persen pasar global. Melalui strategi penguatan program biofuel dan pengurangan impor solar, nilai tambah dari sektor ini dinilai dapat meningkat signifikan.
Baca juga: Ini Pesan Menteri Bappenas Kepada Dirut Agrinas Palma Nusantara
“Baru tiga komoditas saja yang dihilirisasi bisa menghasilkan Rp15 ribu triliun,” ujarnya.
Amran menekankan, transformasi hilirisasi bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan menyangkut keberlangsungan (survival) dan martabat bangsa di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“Sungguhnya Allah mencintai orang yang bekerja. Jangan hanya berdoa, tapi juga harus bertindak. Indonesia harus dipaksa maju,” kata Amran.
1 2
Share. WhatsApp Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email Telegram
Previous Article Target PSR Seret Bukan Karena Harga TBS, APKASINDO Soroti Syarat Berbelit
Next Article Polemik Pajak Air Bagi Sawit, Ketua Pansus: Masih Kajian, Kami Pelajari Skemanya Dari Sumbar
Berita Terkait
DGL Learning Institute Cetak 80 Calon Auditor ISPO Lewat Pelatihan Komprehensif di Polbangtan Medan
Berita Terbaru
Konsisten Berbagi, Musim Mas Distribusikan 154 Sapi dan 69 Kambing Kurban di Idul Adha 1447 Hijriah
Berita Terbaru
Bappenas Dorong IPB Menjdi Pusat Studi Sawit dan Hilirisasi Bernilai Tambah Tinggi
Berita Terbaru
Dukung DSI, APKASINDO Tegaskan Harga Sawit Petani Harus Dipulihkan
Berita Terbaru
Sepanjang Triwulan Pertama 2026, Nilai Ekspor Sawit Naik Menjadi Rp162,7 Triliun
Berita Terbaru
CPO Menguat Mengikuti Lonjakan Tajam Harga Minyak Mentah
Berita Terbaru
Harga TBS Mitra Swadaya Periode 27 Mei – 2 Juni 2026 Turun 3,83%
Berita Terbaru
Harga TBS Mitra Plasma Riau Periode 27 Mei – 2 Juni 2026 Naik Menjadi Rp3.932,63/Kg
Berita Terbaru
APKASINDO Sambut Positif Hasil Rakor Harga TBS Sawit yang Dipimpin Wamentan
Berita Terbaru
Comments are closed.




