Petani Punk Gunungkidul Dukung Program Lumbung Mataraman untuk Ketahanan Pangan
Kiprah petani muda penting dalam menjaga ketahanan pangan hingga 20 tahun ke depan.
Red: Fernan Rahadi
Foto: dokpri
Petani punk Gunungkidul
REPUBLIKA.CO.ID, WONOSARI -- Semangat kolaborasi untuk ketahanan pangan nasional terpancar dari pelosok Gunungkidul. Komunitas Petani Punk Gunungkidul menyatakan kesiapan penuh untuk bersinergi dengan program Lumbung Mataraman guna mendukung keberlangsungan unit Dapur Makan Bergizi (MBG) yang tengah dikembangkan pemerintah.
Lurah Ngleri, Playen Gunungkidul, Supardal mengungkapkan bahwa wilayahnya memiliki potensi pertanian yang besar untuk menyokong kebutuhan pangan dapur MBG. Berbagai langkah strategis telah dilakukan pemerintah kalurahan dalam beberapa tahun terakhir, di antaranya mengenai pembuatan 12 sumur tegalan (ladang) dan akses jalan usaha tani untuk memudahkan distribusi hasil panen.
"Selain itu penguatan kelompok tani di setiap dusun, termasuk kelompok tani milenial dan kelompok tani wanita. Juga kita mendorong petani untuk berinovasi melalui penanaman berbagai jenis tanaman hortikultura (sayur-mayur) sesuai musim agar pasokan bahan baku tetap stabil," jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendampingan dari pemerintah pusat maupun daerah, terutama terkait penyediaan bibit, pupuk, dan lahan.
Hal senada diungkapkan Petani Punk Gunungkidul, Mas SiBagz yang menyambut baik hadirnya Dapur MBG. Menurutnya, program ini menjadi angin segar bagi para petani muda yang selama ini sering mengalami kendala dalam pemasaran hasil panen.
"Selama ini hasil petanian sayur di Gunungkidul luar biasa, namun terkadang bingung untuk pemasaran dan harus bergantung pada pengepul. Dengan adanya Dapur MBG, kami berharap petani lokal temasuk potensi petani milenial atau Gen Z, bisa langsung menyuplai kebutuhan bahan pangan tanpa melalui rantai distribusi yang panjang," ujar SiBagz.
Ia berharap program ini menjadi momentum regenerasi petani, mengingat pentingnya peran petani muda dalam menjaga ketahanan pangan hingga 20 tahun ke depan.
Sementara itu, langkah nyata menuju kedaulatan pangan lokal semakin diperkuat di Kabupaten Gunungkidul. Melalui koordinasi intensif antara RM Wahyono Bimarso dari Yayasan Biijana Paksi Sitengsu (Sampeyan Dalem Trah Sultan Hamengkubuwono I) dengan Badan Gizi Nasional (BGN), integrasi pasokan pangan lokal kini memasuki tahap pematangan untuk mendukung penuh program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Dalam upaya menyelaraskan hasil panen petani lokal dengan kebutuhan nasional, Yayasan Biijana bersama BGN menetapkan standar nutrisi dan higienitas yang ketat. Produk pertanian dari komunitas, termasuk Petani Punk Gunungkidul, harus memenuhi kriteria tinggi untuk menu harian siswa," jelas RM Wahyono Bimarso
Selain itu, guna memastikan distribusi bahan baku segar tidak terhambat, diperkenalkan Sistem Informasi Monitoring dan Evaluasi Ketahanan Pangan Strategis (SIMETRIS) untuk mengintegrasikan data pangan termasuk dari Lumbung Mataraman. Sistem ini menghubungkan pencatatan stok di Lumbung Mataram secara langsung dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur-dapur sehat di wilayah setempat.
Salah satu kolaborasi ini adalah keterlibatan aktif komunitas Petani Punk Gunungkidul. Petani Punk Gunungkidul terus bersinergi termasuk dengan pelatihan supaya memberikan kemampuan teknis, sekaligus juga motivasi bagi generasi milenial dan Gen Z untuk melihat sektor pertanian sebagai profesi produktif yang membanggakan.
Saat ini Program Lumbung Mataram rencananya akan dilaksanakan di 10 kecamatan (kapanewon) Gunungkidul, Yogyakarta dan lima Kecamatan di Kabupaten Tangerang sebagai bagian prototipe Integrasi Lumbung Mataraman dan Badan Gizi Nasional (BGN)
"Sinergi ini memastikan bahwa petani muda dan petani Punk di Gunungkidul tidak lagi kesulitan dalam pemasaran, karena hasil panen mereka langsung diserap oleh program MBG sebagai off-taker resmi," kata RM Wahyono Bimarso.
Ikuti Whatsapp Channel Republika
Advertisement
petani punk gunungkidul
petani punk
petani gunungkidul
Berita Terkait
Rejogja - 12 April 2026, 07:38
Awasi Rantai Pasok Dapur MBG, Pemuda Petani Punk Gunungkidul Andalkan Teknologi AI
Rejogja - 26 September 2025, 17:15
Kolaborasi UWM dan AKPRIND Berdayakan Petani Singkong Gunungkidul dengan Teknologi Tepat Guna
Rejogja - 13 May 2023, 12:59
Dukung Ketahanan Pangan, Pemda DIY Serahkan Bantuan 33 Traktor kepada Petani Gunungkidul
Rejogja - 27 February 2023, 09:14
Sensus Pertanian, Petani di Gunungkidul Diminta Beri Jawaban Jujur
Nusantara - 29 December 2022, 16:13
Petani di Bleberan Gunungkidul Panen Raya Kedelai 40 Hektare
Rejogja - 25 August 2022, 16:57
Gunungkidul Panen Raya Kedelai, Petani Raup Untung
Rejogja - 19 August 2022, 20:40
Petani Gunungkidul Diminta Segera Panen Singkong
Nasional - 17 August 2020, 17:06
Ratusan Petani Ikut Meriahkan Upacara HUT RI di Gunungkidul
Berita Lainnya
Ameera - Kamis , 30 Apr 2026, 22:15 WIB
Menggugat Nurani di Balik Tragedi Kekerasan Daycare
Ameera - Kamis , 30 Apr 2026, 21:00 WIB
Festival Film Pendek Angkat Praktik Pemberdayaan Komunitas
Ameera - Kamis , 30 Apr 2026, 19:29 WIB
Konser World Tour BTS Picu Lonjakan Fantastis Pariwisata di Korea Selatan
Ameera - Kamis , 30 Apr 2026, 19:14 WIB
Peneliti BRIN Singgung Siomai Berbahan Ikan Sapu-Sapu, Haruskah Masyarakat Cemas?
Ameera - Kamis , 30 Apr 2026, 16:56 WIB
Mengapa Mimpi Kadang Terasa Nyata? Ini Penjelasan Ilmiah di Baliknya




