Permohonan WNI Eks ISIS di Suriah untuk Kembali ke Indonesia
Sumber Foto: BBC
Nada Tengah

Permohonan WNI Eks ISIS di Suriah untuk Kembali ke Indonesia

Nada Fedulla, seorang remaja asal Indonesia, menjadi salah satu dari ribuan anak-anak yang terjebak di kamp pengungsian Al-Hol, Suriah, setelah keluarganya bergabung dengan kelompok ISIS. Sejak kekalahan kelompok tersebut sekitar dua hingga tiga tahun lalu, banyak perempuan dan anak-anak, termasuk Nada, terpaksa tinggal dalam kondisi yang memprihatinkan di kamp yang dihuni lebih dari 70.000 orang.

Dalam sebuah wawancara khusus dengan BBC, Nada mengungkapkan rasa lelahnya terhadap kehidupan di kamp pengungsian. "Saya sangat lelah tinggal di sini. Jadi, saya sangat berterima kasih jika ada orang yang memaafkan dan menerima kami pulang," ujarnya. Nada berharap pemerintah Indonesia dapat memulangkan dirinya dan keluarganya, termasuk ayahnya yang kini mendekam di penjara di Suriah.

Pernyataan Nada datang di tengah isu sensitif terkait pemulangan eks ISIS ke Indonesia, di mana pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Polhukam, Mahfud MD, telah menyatakan bahwa tidak ada rencana untuk memulangkan mereka. Tindakan ini ditakutkan akan membawa 'virus terorisme' baru ke Indonesia.

Di berbagai negara, banyak pemerintah yang enggan menerima kembali para eks petempur ISIS dan keluarganya. Hanya beberapa negara, seperti Rusia, Arab Saudi, dan Maroko, yang bersedia memulangkan mereka.

Nada mengisahkan bagaimana keluarganya sampai ke Suriah. Ia menjelaskan bahwa keputusan untuk pergi diambil oleh ayahnya, yang mengharapkan kehidupan yang lebih baik di bawah kekuasaan ISIS. "Dulu saya bercita-cita menjadi dokter. Saya suka belajar," katanya, mengingat impian yang harus ditinggalkannya.

Selama hampir dua tahun tinggal di kamp pengungsian, Nada dan neneknya mengalami banyak kesulitan. "Kehidupan di sini sangat berbeda. Kami harus bertahan dan berusaha bersosialisasi dengan orang lain," tuturnya. Ia juga mengungkapkan kerinduan yang mendalam terhadap ayahnya, yang telah terpisah darinya sejak mereka tiba di Al-Hol. Nada mengaku hanya sempat melihat ayahnya sekali dan tidak memiliki kontak lebih lanjut.

Dalam wawancara tersebut, Nada menggambarkan situasi di wilayah yang dikuasai ISIS sebagai sangat menakutkan, di mana ia menyaksikan kekerasan dan kekejaman. Meskipun hidup dalam ketakutan, Nada menyatakan harapannya untuk bisa kembali ke Indonesia dan berkumpul dengan keluarganya. "Saya ingin keluar dari sini dengan seluruh keluarga saya. Jika pemerintah Indonesia bisa melakukannya, saya ingin mereka membawa pulang kami dan membawa ayah dan saudara saya," tutupnya.