Perajin Talempong di Agam Bertahan di Tengah Perubahan Gaya Hidup
Sumber Foto: Liputan6.com
Nada Tengah

Perajin Talempong di Agam Bertahan di Tengah Perubahan Gaya Hidup

Di tengah perkembangan gaya hidup modern dan hadirnya beragam alat musik kekinian, usaha pembuatan talempong—alat musik tradisional Sumatera Barat—masih bertahan. Di Nagari Sungai Pua, Kabupaten Agam, seorang perajin bernama Mabrur terus menjalankan produksi talempong sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian kesenian daerah.

Menurut Mabrur, mempertahankan usaha pembuatan talempong menjadi kebanggaan tersendiri karena turut membantu menjaga tradisi. Talempong sendiri dibuat dari bahan kuningan dan melalui proses produksi yang panjang.

Proses Pembuatan Hingga Penyetelan Nada

Mabrur menjelaskan, tahap pencetakan talempong membutuhkan waktu hingga 20 hari. Proses ini dikenal sebagai proses lilin, yakni pembuatan pola ukiran pada talempong sesuai pesanan pembeli.

Setelah itu, cetakan dibakar menggunakan batu bara. Saat cetakan masih panas, kuningan yang telah dilebur dituang ke dalamnya hingga terbentuk talempong. Dalam kurun dua bulan, Mabrur menyebut mampu memproduksi sekitar 100 buah.

Setiap talempong memiliki nada yang berbeda, sehingga penyetelan menjadi tahap penting. Penyetelan dilakukan dengan memukul bagian bundar yang menonjol untuk menaikkan nada, sementara bagian sekeliling yang lebih rendah dipukul untuk menurunkan nada.

Mabrur mengatakan proses penyetelan tidak mudah dan menuntut ketelitian. Jika salah menyetel, nada bisa tidak sesuai sehingga perlu kehati-hatian.

Pemesanan dari Sekolah hingga Sanggar Tari

Pemesan talempong umumnya berasal dari sekolah-sekolah dan sanggar tari. Harga per buah disebut Rp 195 ribu untuk talempong berukir dan Rp 185 ribu untuk talempong polos.

Dalam beberapa kasus, pembeli memesan satu set lengkap yang terdiri dari 24 melodi dan 16 rhythm. Mabrur menyebut pemesan satu set umumnya berasal dari sanggar tari, termasuk yang datang dari Jakarta. Ada pula pemesanan yang hanya mencakup beberapa nada tertentu.

Pesanan Tidak Selalu Ramai

Meski tetap berjalan, pemesanan talempong tidak selalu ramai. Mabrur mengatakan ia tetap menyediakan stok yang siap dijual di rumahnya di Jorong Tangah Koto, Nagari Sungai Pua, Kecamatan Sungai Pua, Agam.

Ia menilai usaha talempong tidak seperti usaha kuliner yang perputaran jual-belinya terjadi setiap hari. Saat pesanan sedang sepi, ia menyebut ada rencana membuat suvenir.

Produksi Peralatan Kuningan Lain

Dengan bantuan dua orang karyawan, Mabrur tidak hanya memproduksi talempong. Ia juga membuat alat musik dan peralatan lain berbahan kuningan, seperti canang, gong, serta wadah sirih atau carano. Untuk produk gong, Mabrur menyebut peminatnya datang dari masyarakat Pekanbaru, Riau.

Bantuan Peralatan dan Promosi Terbatas

Dalam menjalankan usahanya, Mabrur mengatakan pernah mendapat bantuan peralatan dari pemerintah daerah setempat. Namun untuk kegiatan promosi, ia jarang menyanggupi karena peralatan yang dibawa memiliki bobot cukup berat.

Meski demikian, ia menyebut usaha ini sudah berjalan turun-temurun sehingga cukup dikenal. Ia juga mengatakan tetap melakukan promosi sesekali melalui media sosial.