Penguatan Tata Kelola dan Etika Penting untuk Pertumbuhan Fintech di Indonesia
Sumber Foto: Neraca.co.id
Teknologi

Penguatan Tata Kelola dan Etika Penting untuk Pertumbuhan Fintech di Indonesia

NERACA

Jakarta – Berdasarkan laporan Annual Members Survey (AMS) 2024–2025, adopsi fintech di Indonesia terus meningkat pesat, namun masih dihadapkan pada tantangan literasi dan kepercayaan publik. Sekitar 70–80 persen pengguna fintech masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan mayoritas berasal dari kelompok berpendapatan menengah (Rp5–10 juta per bulan), sementara masyarakat berpenghasilan rendah (Rp0–5 juta) dan wilayah non-Jawa masih tertinggal dalam akses layanan keuangan digital.

Di sisi lain, Ketua Dewan Etik Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Harun Reksodiputro menyampaikan bahwa pertumbuhan fintech harus diimbangi dengan penguatan tata kelola dan etika industri. Ia menyampaikan bahwa AFTECH tengah mengintegrasikan Kode Etik Fintech Nasional, yang menjadi pedoman bagi seluruh pelaku industri dalam menjaga keamanan, transparansi, dan tanggung jawab kepada masyarakat. “Kepercayaan publik adalah modal utama. Tanpa etika dan kepatuhan, pertumbuhan fintech tidak akan berkelanjutan,” tegas Harun dalam konferensi pers Bulan Fintech Nasional (BFN) 2025 di Jakarta, Selasa (11/11).

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, menekankan pentingnya faktor kepercayaan dalam industri ini. Ia menyatakan, seluruh penyelenggara financial technology (fintech) dan pelaku usaha berkomitmen membangun layanan keuangan digital yang tumbuh karena dipercaya, bukan hanya karena populer.

“Kami meluncurkan kampanye nasional #FintechAmanTerpercaya sepanjang Bulan Fintech Nasional ini. At the end, the only currency we have is trust. Dengan adanya trust, kita bisa punya confidence, dan dengan confidence baru kita bisa mendukung investasi untuk pertumbuhan ekonomi nasional. Tanpa kepercayaan itu fintech hanya suatu teknologi,” ucap Pandu.

Ketua Dewan Pengawas AFTECH Arsjad Rasjid menegaskan bahwa fintech telah menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi Indonesia. Sejalan dengan Bali Fintech Agenda 2018, fintech berperan sebagai jembatan antara inovasi digital dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Salah satu contoh nyata dari peran ini adalah kolaborasi antara AFTECH dan International Labour Organization (ILO), yang didukung oleh OJK, melalui program ILO Promise II Impact. Program ini mengintegrasikan data Enterprise Resource Planning (ERP) koperasi sapi perah di Jawa Timur dengan solusi fintech, guna meningkatkan profil kredit dan mempermudah akses pembiayaan modal kerja bagi peternak kecil.

Arsjad menilai, inisiatif ini menunjukkan arah positif bagaimana teknologi keuangan dapat memperluas inklusi finansial dan memperkuat ekosistem agrikultur. “Untuk memperkuat semua inisiatif ini, AFTECH bersama Bank Indonesia, OJK, dan Bappenas mengembangkan platform kolaboratif bernama Digital × Real Sector Launchpad. Melalui platform ini, pelaku fintech dan sektor riil dipertemukan untuk menciptakan solusi pembiayaan produktif, asuransi, dan perencanaan keuangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha,” ungkap Arsjad.