Pelestarian Kecapi, Warisan Budaya Dayak Kalimantan Tengah
Sumber Foto: Jawa Pos
Nada Tengah

Pelestarian Kecapi, Warisan Budaya Dayak Kalimantan Tengah

PALANGKA RAYA - Warisan seni dan budaya masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng) harus terus dijaga dan dilestarikan agar tidak pudar seiring perkembangan zaman. Semua pihak diharapkan berperan aktif dalam melestarikan nilai-nilai budaya ini untuk diteruskan kepada generasi mendatang, sehingga nada-nada musik khas Dayak tetap bergema.

Kalteng, sebagai provinsi terluas di Indonesia, memiliki beragam etnik dan budaya. Setiap daerah menyimpan warisan alam, kebudayaan, dan kesenian yang unik. Salah satu alat musik tradisional yang menjadi bagian penting dari warisan budaya ini adalah Kecapi, alat musik petik khas Dayak Kalteng.

Kecapi: Alat Musik Tradisional Khas Dayak

Kecapi memiliki bentuk menyerupai perahu bertutup dengan dua dawai (Induk Nada) dan tiga dawai (Anak Nada) untuk menghasilkan variasi musik. Bagian dalam Kecapi dilubangi untuk memaksimalkan resonansi suara saat dimainkan, sementara bagian atasnya memiliki beberapa lubang.

Salah satu pengrajin Kecapi, Ari Krisnanda, merupakan generasi ketiga dalam pembuatan alat musik ini setelah kakek dan ayahnya. Ari mengumpulkan bahan baku Kecapi, yaitu kayu Parupuk, dengan cara mencari langsung di hutan. Ia menjelaskan, "Masuk ke hutan sekitar satu setengah jam untuk mencari kayu Parupuk berdiameter 20-30 sentimeter kemudian dibelah dua. Dari satu kayu bisa dihasilkan dua Kecapi." Kayu Parupuk dipilih karena ringan, mudah dibentuk, dan memiliki ketahanan yang baik.

Proses Pembuatan dan Makna Budaya

Setelah kayu diperoleh, proses pembuatan Kecapi dilanjutkan dengan membentuk badan dan kepala Kecapi yang biasanya dihiasi dengan motif atau paruh burung enggang. Kecapi tidak hanya digunakan sebagai alat musik instrumental, tetapi juga sebagai pengiring dalam ritual adat, upacara, dan hiburan bagi masyarakat Dayak Kalteng.

Motif ukiran pada Kecapi sering kali menggambarkan flora dan fauna endemik Kalteng, seperti Burung Tingang dan tanaman Bajakah Kalalawit. Pewarnaan Kecapi menggunakan warna khas Kalteng yang meliputi putih, hitam, kuning, hijau, dan merah.

Harapan untuk Pelestarian Budaya

Ari Krisnanda, yang juga dikenal dengan sebutan Ari Sawung, mengungkapkan bahwa Kecapi sebagai alat musik khas Kalteng belum terlalu dikenal luas, dan banyak masyarakat yang keliru mengira Sape sebagai alat musik khas Kalteng. Ia berharap masyarakat serta pemerintah, termasuk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kalteng, dapat bersama-sama melestarikan dan mengenalkan budaya Kalteng.

Ari menekankan pentingnya dukungan dari pihak berwenang dalam pembangunan budaya sebagai aset warisan Kalteng. Ia percaya, dengan adanya perhatian yang lebih terhadap budaya lokal, perekonomian masyarakat juga akan meningkat seiring dengan meningkatnya minat wisatawan.

Pemerintah dan Upaya Pelestarian

Hari Musik Nasional yang diperingati setiap 9 Maret menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam melestarikan alat musik tradisional. Pamong Budaya Ahli Muda Disbudpar Kalteng, Gauri Vidya Dhaneswara, menyatakan bahwa pemerintah telah menyusun langkah-langkah untuk melestarikan kesenian, tradisi, dan budaya daerah hingga tahun 2045.

Langkah ini meliputi pelestarian alat musik tradisional yang menjadi bagian dari pokok pikiran kebudayaan. Pemerintah juga berupaya memfasilitasi individu atau komunitas yang bergerak dalam pembuatan alat musik melalui dana hibah, yang diharapkan dapat memperkuat perekonomian dan keberlangsungan budaya lokal.