Nada Nusantara: Upaya Melestarikan Musik Tradisi Indonesia
Sumber Foto: National Geographic Indonesia
Nada Tengah

Nada Nusantara: Upaya Melestarikan Musik Tradisi Indonesia

Proyek Nada Nusantara menjadi sebuah inisiatif penting dalam melestarikan kebinekaan musik tradisional di Indonesia. Dikenalkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI) bersama Yayasan Atma Nusvantara Jati (ATSANTI), proyek ini berfokus pada regenerasi dan preservasi alat musik tradisi yang terancam punah di tiga daerah, yaitu Karangasem di Bali, Ambon di Maluku, dan Jawa Tengah.

Di Bali, Anak Agung Gede Krisna Dwipayana, atau yang akrab disapa Gung Krisna, merupakan salah satu terakhir pembuat alat musik tradisi penting yang dikenal dengan nama "penting". Selama pandemi, Gung Krisna terpaksa menghentikan produksinya karena harus merawat istrinya yang sakit. Namun, berkat proyek Nada Nusantara, ia kini kembali aktif dan telah mengajarkan cara pembuatan alat musik tersebut kepada sepuluh anak muda, sehingga total ada sebelas orang yang mampu membuatnya.

Kolaborasi Musisi Tradisional dan Modern

Nada Nusantara melibatkan 162 musisi tradisional dan musisi papan atas nasional seperti Ridho Hafiedz (Ridho Slank), Ardhito Pramono, Yura Yunita, dan Marcello Tahitoe (Ello). Proyek ini dimulai sejak Mei 2022 dan berhasil melahirkan tiga film dokumenter yang masing-masing berdurasi antara 45 menit hingga satu jam. Ketiga film tersebut adalah "Nada-Nada Penting (The Most Important Serenade)" untuk Bali, "Mena Musik Amboina (The Ballad from Ambon)" untuk Maluku, dan "Musik Bhumi Sambhara Budhara (Music on the Mountain of Knowledge)" untuk Jawa Tengah.

Film-film dokumenter ini, yang disutradarai oleh Linda Ochy, merekam perjalanan para musisi dalam mengenal budaya dan sejarah alat musik tradisi. Hasil kolaborasi ini menghasilkan beberapa lagu baru, seperti "Nusa Ina" di Maluku, "Nada-Nada Kaya" di Bali, dan "Ku Selalu di Sini" di Jawa Tengah, yang menggabungkan elemen musik tradisional dengan modern.

Keresahan dan Harapan

Ria Pinasthia dari ATSANTI menjelaskan bahwa proyek ini lahir dari keresahan yang muncul saat mengadakan lomba alat musik tradisi pada tahun 2020. Banyak peserta yang berusia di bawah 35 tahun hanya mampu memainkan satu atau dua alat musik tradisi, dan kurang memahami cara bermain dalam kelompok atau membuat alat musik tersebut. Kegelisahan ini membawa ATSANTI dan Kemendikbud untuk berkolaborasi dalam membuat film dokumenter guna melestarikan alat musik tradisi.

Pendidikan dan Kesadaran Budaya

Program ini bertujuan tidak hanya untuk melestarikan alat musik, tetapi juga memberikan pendidikan dan kesadaran budaya kepada generasi muda. Setiap film dokumenter memberikan informasi tentang filosofi, sejarah, cara memainkan, dan cara membuat alat musik tradisi. Dalam film "Mena Musik Amboina", misalnya, ditunjukkan bagaimana alat musik tradisi di Ambon berfungsi sebagai pemersatu berbagai suku.

Proyek Nada Nusantara telah mendapatkan respon positif dari Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, yang menginginkan agar musik tradisi tidak hanya dianggap sebagai hiasan dalam lagu-lagu modern, tetapi sebagai komponen utama. Ridho Slank menegaskan pentingnya melestarikan musik tradisi sebagai warisan budaya yang harus disampaikan kepada generasi selanjutnya.

Proyek yang Berlanjut

Ria Pinasthia menyatakan bahwa Nada Nusantara bukanlah akhir dari perjalanan ini. Mereka merencanakan proyek serupa di daerah lain, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan daerah timur Indonesia. Harapannya adalah agar semua provinsi yang memiliki alat musik tradisi dapat terekam dan diajarkan kepada generasi muda.

Dengan demikian, Nada Nusantara tidak hanya menjadi sebuah proyek kolaborasi antar musisi, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya musik tradisi Indonesia untuk masa depan.