Mengurai Makna Lagu 'Jangan Bertengkar Lagi Ya? Ok? Ok!' Karya Sal Priadi
Sumber Foto: Kompasiana.com
Olahraga

Mengurai Makna Lagu 'Jangan Bertengkar Lagi Ya? Ok? Ok!' Karya Sal Priadi

Lagu ini ditulis dan dinyanyikan oleh Sal Priadi, penyanyi-penulis lagu Indonesia yang dikenal lewat gaya naratifnya yang personal dan melankolis, sekaligus sering tampil live baik di negeri sendiri maupun di panggung internasional. Lagu memadukan tutur keseharian dengan citra emosional yang kuat, sehingga pesan sederhana dapat terasa mendalam.

Makna dan tema utama

Tema sentral lagu adalah upaya meredakan konflik dalam hubungan, lewat dorongan agar berhenti bertengkar dan kembali ke kehangatan bersama. Pengulangan permintaan "Sudah, jangan bertengkar lagi, Ini sungguh menyebalkan" menegaskan kegelisahan narator sekaligus keinginan kuat untuk mengakhiri putaran emosi negatif. Gambar metaforis seperti "Bakar sedikit api di lingkar peluk kita" menunjukkan upaya restoratif, yakni menumbuhkan kembali kehangatan secara sadar dan bertahap.

Lirik juga memvisualkan obsesi atau perhatian yang intens, misalnya "di dalam kepalaku isinya hanya kepalmu", yang menunjukkan fokus emosional sekaligus sedikit rasa lelah karena terus memikirkan satu orang. Frasa "sumpahmu mengutuk yang jahat" memberi nuansa dramatis, seolah ada janji atau emosi kuat yang ikut mewarnai relasi.

Perangkat bahasa dan gaya

Beberapa teknik penting yang dipakai:

Repetisi, berfungsi sebagai penegas dan pengatur ritme, contoh nyata pada baris "Sudah, jangan bertengkar lagi" yang diulang berlapis.

Metafora sederhana, seperti "bakar sedikit api" dan "lingkar peluk", membuat tindakan rekonsiliasi terasa konkret dan bisa dibayangkan.

Bahasa sehari-hari yang lugas, pilihan diksi seperti "Ini sungguh menyebalkan" menciptakan keintiman, seakan lagunya adalah percakapan di ruang tamu antara dua orang.

Pengulangan vokal latar, tampak di bagian chorus yang diulang-ulang, mempertegas pesan sekaligus memberi efek musik yang menempel di ingatan.

Gaya keseluruhan mudah dicerna, hangat, dan tidak berusaha menjadi puitik berlebihan, sehingga empati pendengar mudah terbangun.

Secara emosional, lagu bergerak dari pengakuan (aku sering memikirkanmu), menuju teguran halus (sudahlah, jangan bertengkar), lalu pada tindakan konkret (membangun kembali kehangatan). Struktur ini menampilkan proses resolusi konflik yang realistis: pertama menyadari masalah, kemudian menenangkan diri, lalu melakukan upaya kecil untuk merawat hubungan.

Pengulangan di bagian akhir memberi kesan keletihan emosional sekaligus tekad untuk mengakhiri kebiasaan negatif, sehingga pendengar merasakan urgensi sekaligus harapan.