Melodi Rabab: Perjuangan Seniman Tradisional di Tengah Modernitas Kota Padang
Sumber Foto: padek.jawapos.com
Nada Tengah

Melodi Rabab: Perjuangan Seniman Tradisional di Tengah Modernitas Kota Padang

Malam di ibu kota Sumatera Barat, Padang, menampilkan pemandangan yang mengharukan dengan denting nada rabab yang menggema di sudut Jalan Pattimura. Alat musik tradisional Minangkabau ini dimainkan oleh Syafrizal, seorang pemuda berusia 23 tahun yang akrab disapa Ihsan, bersama rekannya Rahman Dani, 43, yang menjaga irama dengan tabuhan gandang. Penampilan mereka bukan sekadar hiburan bagi pejalan kaki, tetapi juga merupakan perjuangan untuk melestarikan seni tradisional di tengah arus modernitas.

Ihsan, sebagai pemain utama rabab, memainkan instrumen khas pesisir Sumatera Barat dengan penuh perasaan. Melodi yang dihasilkan membawa nostalgia bagi pendengar yang menyempatkan diri untuk menikmati penampilannya. Di sisi lain, Rahman Dani menabuh gendang dengan ritme yang stabil dan energik, menambah kedalaman pada setiap lagu yang mereka bawakan.

Bagi Ihsan, rabab lebih dari sekadar alat musik; ia telah mengenalnya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Rasa ingin tahunya terhadap musik tradisional mendorongnya untuk mengembangkan kemampuan yang kini menjadi sumber penghidupan. "Kesenian ini adalah satu-satunya yang saya punya. Setiap gesekan dan melodi ini saya jual untuk menghidupi keluarga dan kehidupan saya di rantau," ujarnya.

Sejak enam tahun lalu, Ihsan merantau ke Padang dari pesisir, dan selama itu, musik tradisional menjadi sumber nafkahnya. Ia dan rekannya menggunakan penampilan di pinggir jalan sebagai cara untuk menggantungkan hidup. "Sudah enam tahun saya merantau dari pesisir ke Padang. Dari dulu sampai sekarang, rabab ini yang jadi pegangan saya. Dari sinilah dapur saya mengepul," jelasnya.

Bersama Dani, mereka menciptakan harmoni yang menghibur sekaligus sarat makna. Mereka bergantian memainkan alat musik dan menyanyikan lagu, menunjukkan kolaborasi yang harmonis. "Kadang saya yang bermain rabab, kadang juga teman saya. Yang mendendang (menyanyi) juga kami lakukan bergantian," tambah Ihsan.

Melalui penampilan yang sederhana di Jalan Pattimura, Ihsan dan Rahman Dani menjadi simbol perjuangan seniman lokal. Mereka tidak hanya menjaga tradisi Minangkabau tetap hidup, tetapi juga mencerminkan ketangguhan perantau yang menggunakan warisan budayanya sebagai cara untuk memenuhi tanggung jawab kepada keluarga.