Mahasiswa Fisioterapi UMS Berpartisipasi dalam Konferensi Internasional SEAPAC 2025 di Thailand
Sumber Foto: Universitas Muhammadiyah Surakarta
Nada Tengah

Mahasiswa Fisioterapi UMS Berpartisipasi dalam Konferensi Internasional SEAPAC 2025 di Thailand

Surakarta – Mahasiswa Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sherin Nada Salsabila, berhasil mencatatkan prestasi dengan berpartisipasi dalam konferensi internasional South East Physical Activity Conference (SEAPAC) 2025 yang berlangsung di Thailand. Dalam konferensi tersebut, Sherin mempresentasikan hasil riset mengenai neuroplastisitas berjudul ‘Neuroplasticity in Motor-Sensory Based Rehabilitation for Cerebral Palsy’.

Penelitian yang dipresentasikan oleh Sherin merupakan hasil kajian sistematik literature review di bawah bimbingan Adnan Faris Naufal, S.Fis., M.Bmd. Ia menjelaskan bahwa kendati banyak intervensi yang tersedia untuk cerebral palsy, belum ada penelitian yang secara spesifik membandingkan atau menelaah hubungan antar berbagai intervensi tersebut.

“Selama ini, penelitian cenderung berfokus pada aspek motoris atau sensoris secara terpisah. Saya mencoba mencari apakah ada penelitian yang menggabungkan kedua pendekatan tersebut,” ungkap Sherin.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Sherin menyaring ribuan artikel dari berbagai basis data, termasuk Scopus, PubMed, dan Science Direct. Dari proses penapisan yang ketat, ia menemukan empat artikel yang relevan membahas kedua pendekatan intervensi. Artikel-artikel tersebut mengulas berbagai jenis intervensi, di antaranya HIDIT (Hand Arm Bimanual Intensive Training in Lower Extremity), Robotic Gait Assist Training, serta pendekatan Enriched Environment yang memberikan stimulasi visual, auditori, dan taktil bagi anak-anak. Temuan ini kemudian dibandingkan untuk mengkaji manfaat intervensi terhadap perkembangan motorik, sensorik, dan pengaruhnya terhadap neuroplastisitas otak anak.

Sherin berharap penelitiannya dapat menjadi dasar bagi kajian lebih lanjut dan memperkaya penelitian terkait intervensi pada anak-anak dengan cerebral palsy. “Semoga ke depannya muncul penelitian yang lebih mendalam mengenai aspek neuroplastisitas pada anak-anak yang mengalami cerebral palsy,” tuturnya.

Kesempatan untuk mengikuti konferensi ini berawal dari tugas akhir OBE (Outcome Based Education). Sherin mendapat informasi mengenai kegiatan tersebut dari pembimbingnya, menyusun topik penelitian, mengirimkan abstrak, dan akhirnya dinyatakan lolos untuk mempresentasikan makalah lengkap di Thailand.

Konferensi di Thailand juga menjadi pengalaman pertama Sherin bepergian ke luar negeri dan mengikuti forum ilmiah internasional. Ia mengaku sangat antusias dapat bertemu dengan peserta dari berbagai negara. “Pertama kali itu sangat excited, saya penasaran karena biasanya saya orangnya suka mencoba hal baru. Di sana, saya bertemu dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda, dan mereka sangat pintar serta ingin berbagi pengetahuan,” tuturnya.

Pengalaman ini semakin memotivasi Sherin untuk mengikuti konferensi internasional lainnya. “Semoga ke depannya saya bisa ikut lebih banyak konferensi lagi karena pengalaman pertama ini sangat luar biasa dan berkesan. Banyak pelajaran yang saya dapatkan,” tambahnya.

Selain pengalaman akademik, Sherin juga mendapatkan wawasan kultural, terutama karena keberangkatannya bertepatan dengan festival Loy Krathong, yang memberinya kesempatan untuk melihat tradisi setempat. Dalam konferensi tersebut, berbagai workshop diadakan dengan tema aktivitas fisik, promosi kesehatan, hingga sistem kebijakan kesehatan di Thailand. Wawasan baru ini diharapkannya dapat menginspirasi penerapan praktik fisioterapi dan promosi kesehatan di Indonesia di masa mendatang.