Kusala Sastra Khatulistiwa 2026: Merayakan Sastra dengan Keterlibatan Komunitas
Press conference Kusala Sastra Khatulistiwa pada Kamis (4/2/2026) di Balai Sastra HB Jassin, Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat (dok. Kusala Sastra Khatulistiwa)
Intinya Sih
Kusala Sastra Khatulistiwa telah berlangsung sejak 2001
Tahun ini, Kusala Sastra Khatulistiwa kembali digelar
Melibatkan komunitas baca
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Jakarta, IDN Times - Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) akan kembali digelar pada tahun 2026 sebagai penghargaan tahunan yang mengapresiasi karya sastra Indonesia terbaik. Setelah menandai babak kebangkitannya pada 2025, penghargaan ini melanjutkan komitmennya untuk merayakan karya-karya sastra yang mencerminkan kerja kreatif sastrawan Indonesia serta perkembangan estetika Bahasa Indonesia dalam konteks zamannya.
Menariknya, penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 melibatkan komunitas literasi dalam proses rekomendasi awal karya. Langkah ini memperluas partisipasi ekosistem sastra sekaligus memperkaya sudut pandang pembacaan di bawah naungan Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia dan pendampingan para kurator. Pada Kamis (4/2/2026) di Balai Sastra HB Jassin, Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kusala Sastra Khatulistiwa melangsungkan press conference untuk menjabarkan keseruan KSK di tahun 2026. Penasaran?
1. Ajang penghargaan ini telah berlangsung sejak 2001
Press conference Kusala Sastra Khatulistiwa pada Kamis (4/2/2026) di Balai Sastra HB Jassin, Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat (dok. Kusala Sastra Khatulistiwa)
Kusala Sastra Khatulistiwa menjadi salah satu ajang penghargaan sastra yang berproses bersama perkembangan kesusastraan Indonesia sejak 2001 oleh Richard Oh bersama sejumlah rekan sastrawan lainnya. Awalnya, ajang ini bernama Khatulistiwa Literary Award sebagai ruang apresiasi bagi karya-karya sastra Indonesia yang menandai zamannya. Pada 2014, ajang penghargaan ini berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa.
Selama lebih dari dua dekade, KSK telah mengapresiasi karya-karya yang memperkaya tradisi prosa dan puisi Indonesia. Untuk menjaga kesinambungan penghargaan ini setelah wafatnya Richard Oh pada tahun 2022, keluarga bersama para sahabat dekat mendirikan Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) pada tahun 2024. Sempat absen, akhirnya pada 2025, KSK kembali diselenggarakan dan menghasilkan pemenang, yakni Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama (kumpulan cerpen), Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday (novel), serta Hantu Padang karya Esha Tegar Putra (kumpulan puisi).
2. Tahun ini, Kusala Sastra Khatulistiwa kembali digelar
Press conference Kusala Sastra Khatulistiwa pada Kamis (4/2/2026) di Balai Sastra HB Jassin, Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat (IDN Times/Nisa Zarawaki)
Memasuki 2026, Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia kembali menggelar Kusala Sastra Khatulistiwa dengan tujuan menjaga keberlanjutan penghargaan sastra ini. Penyelenggaraan tahun ini dirancang agar tetap selaras antara visi apresiasi yang diusung dan proses pembacaan karya sastra yang dijalankan, sehingga nilai penghargaan tidak berhenti pada seremoni, tetapi juga pada praktik penilaiannya.
Direktur Program Kusala Sastra Khatulistiwa, Gema Mawardi, menjelaskan bahwa merujuk pada perumusan para kurator, KSK hadir untuk menyoroti karya sastra paling menonjol dalam satu tahun penerbitan. Karya-karya tersebut dinilai merepresentasikan kesungguhan kerja kreatif para penulis, eksplorasi estetika bahasa Indonesia, serta upaya membuka ruang dialog antara daya imajinasi dan realitas sosial masyarakat Indonesia.
"Kusala Sastra Khatulistiwa diharapkan dapat memberi gambaran yang jernih dan jujur mengenai perkembangan sastra Indonesia dalam satu tahun penerbitan, sekaligus menjadi ruang apresiasi yang relevan bagi penulis, penerbit, dan pembaca," ujarnya.
3. Melibatkan komunitas baca
Press conference Kusala Sastra Khatulistiwa pada Kamis (4/2/2026) di Balai Sastra HB Jassin, Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat (IDN Times/Nisa Zarawaki)
Pada edisi tahun ini, Kusala Sastra Khatulistiwa membuka ruang keterlibatan bagi komunitas pembaca dan penggiat diskusi sastra untuk memberikan masukan awal terkait karya-karya yang layak mendapat perhatian. Pendekatan ini diharapkan dapat memperluas perspektif pembacaan sekaligus menangkap denyut perbincangan sastra di tingkat akar rumput.
"Kita masih menjalankan beberapa program seperti KSK tahun kemarin, tapi kali ini ingin achieve yang lebih baik dengan menjangkau komunitas lebih luas. Kami mau melibatkan teman-teman komunitas membaca," tambah Gema.
Proses pengumpulan karya juga dilakukan melalui dua jalur, yaitu pengiriman langsung dari penulis dan penerbit serta tambahan daftar bacaan hasil rekomendasi dewan juri agar cakupan penilaian semakin menyeluruh.




