Kemenpora Siap Berikan Sanksi Berat Jika Terbukti Terjadi Pelecehan di Pelatnas Panjat Tebing
Sentris Media - NEWSREAL.ID, JAKARTA- Isu tak sedap menerpa dunia olahraga nasional. Dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik di lingkungan pelatnas panjat tebing bikin publik kaget. Merespons hal itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora) langsung menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) yang membentuk tim investigasi.
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menegaskan negara tak akan tinggal diam. Atlet, kata dia, adalah aset bangsa yang wajib dilindungi, bukan malah merasa terancam di tempat mereka ditempa. “Para atlet adalah anak-anak bangsa. Mereka berlatih dengan disiplin dan membawa Merah Putih dengan bangga. Mereka harus merasa aman,” tegas Erick dalam keterangan resminya, Kamis, (26/2/2026).
Kemenpora mengaku sudah mengikuti perkembangan kasus yang menyeret pelatih kepala tim panjat tebing Indonesia berinisial HB. Pemerintah juga menyampaikan empati kepada atlet yang diduga menjadi korban, termasuk keluarga yang terdampak.
Tak cuma mendukung investigasi, Kemenpora siap turun tangan memastikan prosesnya berjalan transparan dan akuntabel. Bahkan, opsi pendampingan hukum dan psikologis bagi atlet yang membutuhkan juga dibuka lebar.
Erick menegaskan, jika terbukti ada pelecehan atau kekerasan fisik, sanksi terberat siap dijatuhkan, termasuk larangan seumur hidup. Jika ditemukan unsur pidana, proses hukum akan berjalan sesuai aturan, termasuk merujuk pada Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang berlaku.
Mencederai Integritas
Menurut Kemenpora, olahraga bukan sekadar soal medali dan podium. Ini soal karakter, martabat, dan wajah bangsa di mata dunia. Karena itu, segala bentuk tindakan yang mencederai integritas pembinaan atlet tak bisa ditoleransi.
Kemenpora juga mengajak seluruh atlet Indonesia, dari level daerah sampai nasional, untuk berani bersuara jika mengalami pelecehan, kekerasan seksual, kekerasan fisik, atau perundungan. Laporan bisa dikirim melalui email [email protected]. “Kalian tidak sendiri. Kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk mendengar dan melindungi,” ujar Erick.
Ke depan, Kemenpora memastikan saluran pengaduan khusus berikut mekanisme perlindungan dan pendampingan akan segera diumumkan secara resmi. Kasus ini jadi pengingat: prestasi boleh tinggi, tapi rasa aman atlet harus jauh lebih tinggi. (tb)




