Kalsel Tingkatkan Pengembangan Kopi Melalui Program BANGKODIN
Sentris Media - Banjarbaru (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan (Disbunnak) terus memperkuat pengembangan komoditas kopi melalui program Pengembangan Kopi Diversifikasi Terintegrasi (BANGKODIN).
Kepala Disbunnak Kalsel, Suparmi, di Banjarbaru, Sabtu, menyampaikan program ini dirancang sebagai strategi peningkatan nilai tambah dan daya saing kopi rakyat berbasis kawasan dengan pendekatan kelembagaan pekebun yang berkelanjutan.
Secara konseptual, BANGKODIN merupakan model pengembangan agribisnis kopi yang mengintegrasikan aspek hulu hingga hilir. Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan luas tanam dan produksi, tetapi juga pada penguatan kelembagaan, diversifikasi usaha, hilirisasi produk, serta kemitraan strategis lintas sektor.
Pendekatan tersebut sejalan dengan paradigma pembangunan perkebunan modern yang menempatkan petani sebagai subjek utama dalam sistem korporasi berbasis kawasan.
Luas perkebunan kopi di Kalimantan Selatan saat ini mencapai 2.231 hektar dengan produksi sebesar 884 ton setara biji kering. Sentra pengembangan kopi tersebar di beberapa kabupaten, yakni Kabupaten Banjar seluas 678 hektar, Kabupaten Balangan 526 hektar, Kabupaten Hulu Sungai Tengah 319 hektar, dan Kabupaten Tabalong 277 hektar. Keempat wilayah tersebut menjadi basis penguatan kawasan kopi rakyat di provinsi ini.
Dalam kurun waktu 2023 hingga 2025, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah mengalokasikan program pengembangan tanaman kopi seluas total 200 hektar. Rinciannya meliputi 40 hektar pada 2023, 60 hektar pada 2024, dan 100 hektar pada 2025.
Intervensi ini mencerminkan konsistensi dukungan pemerintah daerah dalam memperluas areal tanam sekaligus mendorong peningkatan kapasitas produksi kopi rakyat.
Secara implementatif, BANGKODIN menekankan lima pilar utama. Pertama, penguatan budidaya dan produktivitas melalui penyediaan benih unggul serta pendampingan teknis berbasis Good Agricultural Practices (GAP).
Kedua, diversifikasi terintegrasi melalui pola tumpang sari dengan tanaman perkebunan lain, tanaman pangan, hortikultura, serta integrasi dengan peternakan guna meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan stabilitas pendapatan pekebun.
Ketiga, penguatan kelembagaan melalui pembentukan dan pengembangan kelompok tani, gabungan kelompok tani, koperasi, hingga model korporasi pekebun berbasis kawasan untuk memperkuat akses permodalan dan pasar.
Keempat, hilirisasi dan peningkatan nilai tambah melalui pengembangan unit pengolahan kopi, perbaikan manajemen pascapanen, roasting, pengemasan, serta penguatan branding kopi khas Kalimantan Selatan agar mampu bersaing di pasar regional maupun nasional.
Kelima, kemitraan strategis yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, serta pelaku usaha kopi dalam membangun ekosistem agribisnis yang inklusif dan berkelanjutan.
Secara akademis, pendekatan diversifikasi terintegrasi dinilai mampu meminimalkan risiko fluktuasi harga komoditas tunggal serta meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga pekebun. Integrasi usaha dan penguatan kelembagaan juga berkontribusi terhadap peningkatan efisiensi rantai pasok dan posisi tawar petani dalam sistem pemasaran.
Dengan dukungan kawasan sentra yang terus berkembang dan intervensi kebijakan yang terarah, kopi diharapkan menjadi salah satu komoditas unggulan daerah yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Pewarta: Latif Thohir
Editor : Sukarli
COPYRIGHT © ANTARA 2026




