Indonesia Hadapi Deindustrialisasi Prematur di Tengah Pertumbuhan Ekonomi
Sumber Foto: Inilah.com
Nasional

Indonesia Hadapi Deindustrialisasi Prematur di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan, menilai Indonesia tengah menghadapi premature deindustrialization atau deindustrialisasi prematur. Kondisi ini terjadi ketika sektor industri melemah sebelum negara mencapai tingkat pendapatan tinggi.

Hal ini dikatakan Anthony dalam diskusi bertajuk "Quo Vadis Pembangunan Ekonomi Nasional Indonesia" di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, pada Rabu (25/2/2026).

Mulanya, Anthony menjelaskan deindustrialisasi lazim terjadi di negara berpendapatan tinggi yang beralih ke sektor jasa bernilai tambah besar. Namun dalam kasus Indonesia, ia mengungkap fenomena ini justru mengalami penurunan peran manufaktur ketika masih berada di level pendapatan menengah bawah.

“Kita ini premature. Bahwa deindustrialisasi biasa terjadi kalau suatu negara sudah berpendapatan tinggi. Tapi kita sekarang ini menghadapi premature deindustrialization. Sebelum kita berpendapatan tinggi, kita sudah mengalami penurunan,” ujarnya.

Anthony mencatat kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) turun signifikan, dari kisaran 28 hingga 30 persen menjadi sekitar 18 hingga 19 persen.

Di sisi ketenagakerjaan, porsi tenaga kerja di sektor manufaktur juga terus menyusut dan kini tinggal 13,14 persen. Sebaliknya, tenaga kerja bergeser ke sektor informal dengan produktivitas rendah seperti jasa pengangkutan dan kurir.

Ia pun menyoroti penurunan produktivitas nasional, atau Total Factor Productivity (TFP), dalam 10 tahun terakhir turun 2,82 persen.

Anthony membandingkan dengan Vietnam yang mencatat kenaikan produktivitas 14,28 persen dalam periode sama. “Bayangkan dengan Vietnam, dia punya produktivitas naik 14,28 persen,” ucapnya.

Dari sisi efisiensi investasi, kondisi Indonesia juga dinilai tertinggal. Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia pada periode 2015–2024 tercatat sekitar 6,91, sementara Vietnam pada 2024 hanya 4,83.

“Artinya Vietnam cuma investasi 60 persen dari kita, dia menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sama. Atau dengan investasi yang sama, dia bisa menghasilkan 1,6–1,7 kali lipat dari kita,” tuturnya.

Anthony menyebut kondisi tersebut sebagai growth without prosperity, yakni pertumbuhan ekonomi tanpa peningkatan kesejahteraan yang signifikan. “Jadi kita ini bertumbuh, tapi tidak sejahtera,” ungkapnya.