Ichsanuddin Noorsy Paparkan 7 Indikator Kerentanan Ekonomi Indonesia di Sarasehan Asta Cita
Sumber Foto: Editor Indonesia
Nasional

Ichsanuddin Noorsy Paparkan 7 Indikator Kerentanan Ekonomi Indonesia di Sarasehan Asta Cita

Sentris Media - Editor Indonesia, Jakarta – Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (DN-PIM) bersama Universitas Paramadina kembali menyelenggarakan Serial Sarasehan Kebangsaan bertajuk Asta Cita Presiden Prabowo Subianto di Kampus Paramadina Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (25/2). Kegiatan yang dirangkai dengan buka puasa bersama ini dihadiri puluhan aktivis, pimpinan organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, serta sejumlah guru besar.

Sarasehan seri kedua tersebut mengangkat tema “Asta Cita ke-2: Quo Vadis Pembangunan Ekonomi Nasional Indonesia”. Hadir sebagai pembicara ekonom politik senior Ichsanuddin Noorsy, ekonom Anthony Budiawan, dan Wijayanto Samirin, dengan moderator Any Setianingrum. Acara dibuka oleh Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini dan ditutup Ketua Umum DN-PIM Din Syamsuddin.

Dalam pemaparannya, Ichsanuddin Noorsy menyampaikan analisis kritis mengenai arah pembangunan ekonomi nasional. Ia memperkenalkan kerangka “7 Indikator Kerentanan Ekonomi Indonesia” yang menurutnya dapat menjadi peringatan dini terhadap potensi stagnasi bahkan kelumpuhan ekonomi apabila tidak segera dilakukan pembenahan kebijakan secara mendasar.

Tiga indikator utama yang disorot meliputi depresiasi rupiah yang berkelanjutan, menyempitnya ruang fiskal akibat beban utang dan pembayaran bunga, serta menurunnya kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi nasional.

Ia juga memaparkan dampak yang mulai terasa di lapangan, seperti menyusutnya kelas menengah hingga jutaan orang, kehati-hatian sektor perbankan dalam menyalurkan kredit karena ketidakpastian, serta gejala deindustrialisasi dini yang terlihat dari menurunnya kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian.

Menurut Ichsanuddin, kondisi tersebut menunjukkan adanya stagnasi struktural yang berpotensi mempersempit kapasitas negara dalam mendorong pertumbuhan dan pemerataan kesejahteraan. Ia menyebut Indonesia tengah berada dalam situasi risk-off, yakni fase meningkatnya kehati-hatian ekonomi akibat tekanan struktural dan dinamika global.

Lebih jauh, ia menilai akar persoalan terletak pada ketimpangan arah kebijakan ekonomi nasional yang memicu kelumpuhan struktural. Disfungsi kebijakan fiskal dan moneter, penguasaan sumber daya strategis oleh kelompok elite, lemahnya produktivitas dan inovasi, serta distorsi harga dan daya beli masyarakat menjadi faktor yang menggerus daya saing nasional.

Sebagai solusi, ia menekankan perlunya penguatan pilar daya saing dan ketahanan nasional secara simultan. Pilar tersebut mencakup pengembangan modal intelektual dan sosial, optimalisasi pengelolaan sumber daya alam, peningkatan efisiensi ekonomi, serta perbaikan tata kelola pemerintahan.

Ichsanuddin juga menyoroti pentingnya harmonisasi antara pendekatan ekonomi syariah yang menekankan prinsip keadilan dan perlindungan terhadap rakyat, dengan ekonomi konstitusi yang mengamanatkan pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif peserta yang menyoroti relevansi gagasan tersebut terhadap agenda pembangunan nasional ke depan.