Harga Emas Mencapai Puncak Enam Minggu di Tengah Pelemahan Dolar AS dan Sentimen Hati-Hati
Harga emas (XAU/USD) mencapai level tertinggi dalam enam minggu pada hari Senin, meskipun didorong oleh volume aksi beli yang relatif rendah. Kenaikan harga ini terutama dipicu oleh sentimen pasar yang lemah, tantangan ekonomi di Tiongkok, serta ketegangan geopolitik yang terus berlanjut.
Selama paruh pertama sesi perdagangan Eropa, emas menunjukkan performa yang kuat dan diperdagangkan mendekati level tertinggi sejak 21 Oktober. Para trader meningkatkan ekspektasi mereka terhadap kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed) setelah pernyataan dovish dari beberapa pejabat bank sentral AS. Prospek ini berdampak pada Dolar AS, yang turun ke level terendah dalam hampir dua minggu, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi emas, yang tidak memberikan imbal hasil.
Sentimen pasar yang hati-hati, terutama terkait dengan risiko-risiko geopolitik akibat eskalasi konflik Rusia-Ukraina, juga berkontribusi pada penguatan harga emas sebagai aset safe-haven. Meskipun demikian, para pembeli tampak enggan untuk beraksi lebih lanjut, memilih untuk menunggu rilis data makroekonomi AS yang dijadwalkan minggu ini, termasuk PMI Manufaktur ISM yang akan dirilis pada hari ini.
Pengaruh Pernyataan Dovish The Fed
Pernyataan dovish dari Gubernur Federal Reserve AS, Christopher Waller, dan Presiden The Fed New York, John Williams, semakin memperkuat harapan akan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Dalam konteks ini, penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menyatakan keinginannya untuk menjabat sebagai ketua bank sentral AS jika diberikan kesempatan oleh Presiden Donald Trump. Hassett diharapkan akan mendukung kebijakan penurunan suku bunga yang tajam, yang berpotensi mendorong harga emas ke level tertinggi selama sesi perdagangan Asia pada hari Senin.
Harapan akan kebijakan dovish The Fed terus memberikan tekanan pada Dolar AS, yang berdampak positif pada logam berharga ini. Selain itu, sentimen pasar ekuitas Asia yang cenderung lemah juga memberikan dukungan tambahan bagi emas.
Tantangan Ekonomi di Tiongkok
Data survei swasta yang dirilis pada hari Senin menunjukkan bahwa aktivitas bisnis di sektor manufaktur Tiongkok mengalami penyusutan yang tidak terduga. Ini terjadi setelah PMI resmi yang dirilis pada hari Minggu menunjukkan pelemahan untuk bulan kedelapan berturut-turut, yang dapat membebani sentimen investor di tengah ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan.
Di sisi lain, ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut juga terlihat saat drone angkatan laut Ukraina menyerang dua tanker minyak dari armada Rusia di Laut Hitam. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa perundingan dengan pejabat Ukraina menunjukkan hasil yang produktif, meskipun banyak pekerjaan masih harus dilakukan untuk mencapai penyelesaian konflik.
Antisipasi Rilis Data Makro AS
Para trader kini menantikan rilis PMI Manufaktur ISM AS untuk mendapatkan informasi lebih lanjut yang dapat mempengaruhi pergerakan harga emas selama sesi perdagangan Amerika Utara. Rilis data makroekonomi penting yang dijadwalkan pada awal bulan baru diperkirakan akan mendorong permintaan Dolar AS dan mempengaruhi arah jangka pendek harga emas.
Outlook Teknikal untuk Emas
Dari perspektif teknis, jika harga emas terus menguat dan menembus area $4.250, ini dapat menjadi sinyal positif bagi para pembeli untuk mendorong harga lebih tinggi. Penguatan di atas level ini dapat membuka peluang untuk mencapai target di sekitar $4.300. Sebaliknya, level terendah perdagangan sesi Asia di sekitar $4.200 dianggap sebagai batas bawah yang penting. Jika harga jatuh di bawah level ini, potensi aksi jual teknis dapat terjadi, dengan target penurunan selanjutnya berada di sekitar $4.100 dan area konfluensi sekitar $4.073.




