DPR Tekankan RUU Komoditas Strategis untuk Kepastian Usaha Sawit
Share
Jakarta, SAWIT INDONESIA – Ketidakpastian hukum dinilai menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja industri kelapa sawit nasional. Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, menegaskan penyelesaian persoalan tata kelola, khususnya yang berkaitan dengan kawasan hutan dan hak guna usaha (HGU), harus dilakukan secepat mungkin agar pelaku usaha memperoleh kepastian berusaha.
Berbicara dalam acara Ngobrol Bareng “Meneropong Daya Saing Sawit Pasca Penertiban Kawasan Hutan” di Jakarta, Rabu (18 Februari 2026), Firman menilai penegakan hukum perlu dibedakan secara tegas antara pelanggaran administratif dan pidana.
Baca juga: Proyeksi HR Naik, Pungutan Ekspor Sawit Q2 2026 Berpotensi Meningkat
“Maka, harus dilakukan penyelesaian secepatnya. Yang salah dihukum, ada dua, administrasi dan denda (mengenai persoalan kawasan hutan). Yang benar-benar melanggar, tidak izin, ada sanksi pidananya. Kecuali sudah diberi sanksi denda tapi tidak bayar, itu bisa dinaikkan pidana,” ujarnya.
Menurutnya, ketidakpastian tersebut berdampak langsung pada produksi. “Penurunan (produksi) akibat tidak adanya kepastian hukum. Maju salah, mundur salah. Yang saya khawatirkan nantinya pabriknya menjadi korosi semua,” katanya.
Produksi Terancam Turun
Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) sekaligus Pelaksana Tugas Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga, memperkirakan produksi sawit nasional mulai tertekan pada 2026.
Baca juga: GIICOMVEC 2026 Jadi Etalase Transformasi Truk Niaga, Dari Euro 4 hingga Elektrifikasi
Ia menyebut, pada 2025 produksi masih diproyeksikan sekitar 52 juta ton. Namun, pada 2026 terdapat potensi penurunan 5%-6%.
“Kedua, prediksi kita DMSI 2026 turun, 2025 masih memprediksi 52 juta ton. Perkiraan kami 5-6 persen akan turun. Karena banyak lahan yang dikelola dengan tidak baik. Kedua, banyak perusahaan banyak habis HGU. Akhirnya ini tidak direplanting oleh mereka,” ujarnya.
Baca juga: Produksi CPO Semester I/2026 Diproyeksi Turun, Pasokan Masih Aman
Sahat juga menyoroti polemik perpanjangan HGU yang dikaitkan dengan kewajiban alokasi 25% untuk petani. Menurutnya, implementasi di lapangan masih menyisakan banyak pertanyaan.
“Contoh, kalau HGU habis akan perpanjang apabila 25 persen diambil petani. Sekarang masalahnya, ini ada yang subur ada yang tidak. Siapa yang menetapkan. Terus mau diberikan ke siapa. Misalnya kalau saya replanting, tahu-tahu diambil karena HGU mau habis. Siapa yang rugi? Indonesia. Ini sangat kritis. Bahwa sawit tidak baik-baik saja,” tegasnya.
1 2
DPR RI Firman soebagyo Investasi sawit Kelapa sawit Petani RUU Perlindungan Komoditas Strategis sahat sinaga
Share. WhatsApp Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email Telegram
Previous Article Kalimantan Timur Berhasil Mencegah Peredaran Benih Ilegal
Next Article Kesetaraan Gender dan Peran Perempuan dalam Industri Sawit
Berita Terkait
Sumbar Catat Hattrick, Harga TBS Tertinggi Tiga Bulan Berturut-turut se-Indonesia
Berita Terbaru
Indonesia Tetap Eksportir Terbesar Sawit ke Uni Eropa, Ini Buktinya
Berita Terbaru
Total Pendapatan Dua Emiten Sawit Haji Isam Capai Rp 5 Triliun Sepanjang 2025
Berita Terbaru
Sawit Jadi Primadona, Serap Kredit Usaha Rakyat Rp149,4 Miliar di Kalimantan Selatan
Berita Terbaru
Dari Ekspansi ke Simplifikasi: Membaca Ulang Kebijakan Hijau Eropa di Dunia yang Terfragmentasi
Berita Terbaru
Strategi “Jemput Bola” PalmCo Permudah Petani Ikut PSR
Berita Terbaru
Kabar Gembira! Harga TBS Sawit Kaltim Tetap Naik Menjadi Rp3.385/Kg
Berita Terbaru
Bisnis Sawit Haji Abdul Rasyid Makin Moncer, Ditopang Penjualan Ekspor
Berita Terbaru
Gebrakan PalmCo, Bantu Peremajaan Sawit Rakyat 2.287 Ha di Awal 2026
Berita Terbaru
Comments are closed.




