Dolar AS Berpotensi Melemah di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Nada Stabil dari Federal Reserve
Chris Turner dari ING mengungkapkan bahwa Dolar AS (USD) berpotensi mengalami pelemahan seiring dengan harga minyak mentah ringan yang kini diperdagangkan di atas $100 per barel. Hal ini terjadi sementara pasar mulai mencari tanda-tanda de-eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Nada yang lebih santai dari Federal Reserve (The Fed) turut memengaruhi ekspektasi pasar, yang kini memprediksi kemungkinan penurunan suku bunga pada akhir tahun. Data ekonomi dari Amerika Serikat yang bervariasi dan kinerja pasar saham yang lebih baik pada akhir bulan juga dapat menyebabkan aksi jual terhadap Dolar.
Pengaruh Nada The Fed dan Lonjakan Harga Minyak
Turner mencatat bahwa komentar terbaru dari Ketua The Fed, Jerome Powell, memberikan dorongan bagi pasar risiko. Powell menyampaikan bahwa ekspektasi inflasi jangka menengah saat ini sudah terikat kuat, sehingga tidak ada dorongan bagi pandangan untuk kenaikan suku bunga yang lebih cepat. Hal ini membuat pasar berbalik arah dan mempertimbangkan kemungkinan penurunan suku bunga The Fed pada akhir tahun.
Data ekonomi AS yang dirilis hari ini diperkirakan akan memberikan dampak beragam terhadap Dolar. Data lowongan pekerjaan JOLTS untuk bulan Februari mungkin menunjukkan hasil yang kuat, sementara data keyakinan konsumen untuk bulan Maret diprediksi akan kembali ke level terendah yang terlihat pada bulan April lalu.
Situasi ini dapat mengindikasikan hari yang lebih lemah bagi Dolar, dengan indeks DXY saat ini menekan puncak kisaran perdagangan sembilan bulan di angka 100,50. Selain itu, perlu diwaspadai adanya aliran fixing akhir bulan yang dapat memengaruhi nilai tukar.
Sementara itu, ekuitas di pasar AS sedikit mengungguli ekuitas luar negeri bulan ini, yang bisa memicu aksi jual Dolar saat investor menyesuaikan portofolio mereka.
Perkembangan di Timur Tengah dan Dampaknya
Menebak kebijakan Gedung Putih memang selalu berisiko, namun pada Selasa pagi ini, sejumlah investor tampak mencari tanda-tanda de-eskalasi ketegangan. Dukungan terhadap pandangan ini muncul dari laporan Wall Street Journal yang menyatakan bahwa Presiden Trump bersedia untuk mengakhiri konflik tanpa membuka kembali Selat Hormuz. Mengingat harga minyak mentah ringan AS yang kini berada di atas $100 per barel, yang merupakan level sensitif bagi Gedung Putih, pasar akan memperhatikan dengan cermat retorika yang muncul dari AS hari ini.




