Diskusi Strategis Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8% di Tengah Ketidakpastian Global
Sumber Foto: Industry.co.id
Nasional

Diskusi Strategis Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8% di Tengah Ketidakpastian Global

Di tengah konflik geopolitik global yang kian memanas pada 2026 dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia, President Club menggelar diskusi strategis bertajuk Indonesia's Forward: Kolaborasi untuk Ketahanan Nasional di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta.

Ridwan

Rabu, 25 Februari 2026 - 15:00 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Di tengah konflik geopolitik global yang kian memanas pada 2026 dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia, President Club menggelar diskusi strategis bertajuk Indonesia's Forward: Kolaborasi untuk Ketahanan Nasional di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta, Jumat (6/1).

Forum ini mempertemukan pengusaha, akademisi, dan pemerintah guna membahas strategi mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen sekaligus memperkuat ketahanan nasional.

Diskusi menghadirkan Prof. Budi Susilo Soepandji sebagai keynote speaker. Turut hadir Kris Wijoyo Soepandji (Staf Khusus Menteri Pertahanan), Fakhrul Fulvian (Chief Economist Trimegah Sekuritas & Soemitro Economic Forum), Prof. Telisa Aulia Falianty (Guru Besar FEB UI), serta Prof. Chandra Setiawan (Executive Director President Club).

Acara dimoderatori Benardinus Boyke Rachmanda, Advisor Bidang Hubungan Pemerintah Yayasan Pendidikan Universitas Presiden.

Chief Economist Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, menilai dunia tengah memasuki periode perubahan besar yang disertai tantangan sosial, ekonomi, hingga ketahanan negara. Transformasi teknologi dari semi-digital menuju digital penuh, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI), membawa peluang sekaligus risiko.

Menurutnya, risiko kebocoran data pribadi maupun institusi dapat berdampak pada ketahanan nasional. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter agar dunia usaha tetap bergerak dan ekonomi mampu tumbuh menuju target 8 persen.

“Banyak kesempatan di era perubahan besar ini. Tapi dibutuhkan strategi nilai tambah dan ketahanan nasional yang tepat, karena dunia saat ini berbeda total dibanding sebelumnya,” ujar Fakhrul.

Konsep "Defence Supports Economy". Dua Sisi Koin Negara

Kris Wijoyo Soepandji menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi 8 persen memang bukan target mudah. Namun dengan konsolidasi dan gotong royong nasional, target tersebut dinilai realistis.

Ia mengutip konsep Astacita Presiden Prabowo Subianto poin kedua, yakni defence supports economy—pertahanan dan keamanan yang mendukung ekonomi melalui swasembada pangan, energi, dan air.

“Eksistensi negara itu seperti dua sisi koin yang tidak terpisahkan: kedaulatan dan kesejahteraan. Garuda tidak pernah berubah, itu simbol kedaulatan. Tanpa pertahanan, kesejahteraan sulit terwujud,” kata Kris.

Guru Besar FEB UI, Prof. Telisa Aulia Falianty, menekankan pentingnya memaksimalkan sumber daya alam (SDA) untuk keluar dari jebakan middle income trap. Ia mencontohkan Chili yang sukses mengandalkan SDA sebagai pendorong pertumbuhan.

“Game changer kita ada di mineral. Tinggal butuh roadmap kelembagaan yang kuat,” tegas Telisa.

Ia juga menekankan bahwa kedaulatan nasional tidak berarti anti-investor asing. Justru keseimbangan antara kepentingan nasional dan kepercayaan investor menjadi kunci, terutama dalam sektor hilirisasi seperti manufaktur, farmasi, petrokimia, semikonduktor, hingga kendaraan listrik (EV).

Selain itu, penguatan UMKM tetap menjadi prioritas. Saat ini, UMKM menyumbang sekitar 60 persen ekonomi nasional dan 97 persen penyerapan tenaga kerja. Namun, korporasi besar juga harus didorong agar menciptakan lapangan kerja dan kontribusi pajak yang signifikan.

Regulasi Pro-Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi

Prof. Dr. Chandra Setiawan menyoroti pentingnya regulasi yang pro-pertumbuhan, stabilitas, dan keadilan bagi pelaku usaha. Ia mencontohkan perlunya pengaturan operasional ritel modern agar tercipta level playing field dengan warung tradisional.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa. Indeks persaingan usaha baru kuat di sekitar 16 provinsi, sementara daerah lain belum berkembang optimal.

“Kalau indeks persaingan usaha hanya kuat di Jawa, ketimpangan akan makin lebar. Pertumbuhan 8 persen akan sulit tercapai,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar pemerintah konsisten dan koheren dalam kebijakan keuangan, perdagangan, dan investasi, serta melibatkan akademisi sejak tahap perumusan kebijakan, bukan sekadar legitimasi saat eksekusi.

Isu Board of Peace dan Geopolitik Global

Dalam sesi tanya jawab, isu keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace turut dibahas, menyusul pro dan kontra di masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Kris Wijoyo mengaitkannya dengan strategi para pendiri bangsa.

“Pilihan Presiden dalam situasi geopolitik saat ini tidak mudah. Tapi saya yakin kebijakan tersebut dilandasi kebijaksanaan para founding fathers,” katanya.

Kolaborasi Tiga Pilar Jadi Kunci Ketahanan Nasional

Prof. Budi Susilo Soepandji mengapresiasi diskusi yang dinilai komprehensif dan berharap forum ini tidak berhenti sebagai wacana.

“Yang terpenting adalah tindak lanjutnya. Kolaborasi nyata antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha akan menentukan masa depan Indonesia,” ujarnya optimistis.

Acara ini turut dihadiri jajaran petinggi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Kementerian Perdagangan RI, Polri, TNI, serta alumni Lemhanas.

Share:

#President Club #Jababeka #Ekonomi 8 Persen #Jababeka #President University #President Club #Perekonomian #industry.co.id #industri #industry #berita industri #industry news #berita #news #kawasan industri #industri indonesia #indonesia industry