Akses Pangan Terjangkau Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Stabilitas Nasional
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan bahwa akses pangan terjangkau berperan vital dalam menjaga daya beli masyarakat dan menekan inflasi, sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini juga mendukung stabilitas pasokan nasional.
08:00:40
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan bahwa akses pangan yang terjangkau memiliki peran krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini tidak hanya menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga efektif menekan laju inflasi. Selain itu, akses pangan yang baik turut mendukung stabilitas pasokan pangan di tingkat nasional.
Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa lembaganya mendukung penuh pelaksanaan program stimulus ekonomi. Bapanas memiliki mandat untuk memastikan rantai pasok pangan berjalan lancar dari hulu hingga hilir. Tujuannya agar masyarakat dapat memperoleh akses pangan dengan harga yang terjangkau.
Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Sabtu (08/2), menyoroti pentingnya pangan sebagai fondasi ekonomi. Amran Sulaiman menekankan bahwa jika pangan bermasalah, stabilitas negara juga akan terganggu. Oleh karena itu, menjaga harga pangan tetap stabil menjadi prioritas utama pemerintah.
Peran Bapanas dalam Menjaga Akses Pangan
Bapanas secara aktif terlibat dalam program stimulus ekonomi pemerintah, khususnya pada kuartal ketiga tahun 2025. Dalam program ini, Perum Bulog ditugaskan untuk menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat. Bantuan berupa beras 20 kilogram diberikan secara gratis kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) untuk alokasi dua bulan, dimulai sejak Juli 2025.
Realisasi penyaluran bantuan pangan beras ini mencapai lebih dari 18 juta KPM di seluruh Indonesia hingga November 2025. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp4,97 triliun untuk program prorakyat ini. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan akses pangan terjangkau bagi masyarakat yang membutuhkan.
Tidak berhenti di situ, pemerintah kembali meluncurkan program bantuan pangan sebagai bagian dari stimulus ekonomi kuartal keempat 2025. Kali ini, paket bantuan tidak hanya berisi beras, tetapi juga MinyaKita. Setiap KPM menerima beras 20 kilogram dan MinyaKita 4 liter untuk alokasi dua bulan.
Hingga akhir Desember 2025, penyaluran bantuan pangan beras dan minyak goreng ini telah menjangkau lebih dari 17 juta KPM. Total anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk program ini mencapai sekitar Rp6,5 triliun. Program ini bertujuan meringankan beban pengeluaran konsumsi harian masyarakat.
Stimulus Ekonomi dan Dampaknya pada Masyarakat
Program bantuan pangan yang digulirkan pemerintah terbukti sangat membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Program ini berkontribusi dalam menjaga daya beli masyarakat, sekaligus memastikan roda ekonomi terus bergerak. Stabilitas harga pangan menjadi elemen kunci dalam menjaga daya beli.
Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, memastikan bahwa pemerintah akan melanjutkan program bantuan pangan beras dan minyak goreng. Program ini akan berlanjut untuk kuartal pertama tahun 2026. Bahkan, jumlah KPM yang menjadi sasaran akan ditingkatkan secara signifikan.
Peningkatan jumlah KPM direncanakan mencapai 33,2 juta KPM, naik secara eksponensial dari 18 juta KPM sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan skala prioritas pemerintah dalam memperluas jangkauan bantuan. Hal ini bertujuan untuk mendukung lebih banyak keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan dasar mereka.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Kontribusi Konsumsi Rumah Tangga
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 tercatat cukup baik, mencapai 5,11 persen. Angka ini merupakan tingkat pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2023, menandakan pemulihan ekonomi nasional yang stabil dan berkelanjutan.
Pada triwulan IV 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Capaian ini menjadi pertumbuhan triwulan IV tertinggi sejak berakhirnya pandemi COVID-19. Data ini disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti.
Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut mencerminkan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan. Pemulihan ini terutama didorong oleh aktivitas domestik yang tetap terjaga sepanjang tahun 2025. Konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar.
Secara keseluruhan, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan terbesar pada tahun 2025 dengan kontribusi 2,62 persen. Hal ini menegaskan peran penting belanja masyarakat dalam menopang perekonomian nasional. BPS juga melaporkan bahwa konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan mencatat pertumbuhan sebesar 4,98 persen selama tahun 2025.




