Sentris Media - Bloomberg Technoz, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia tercatat mengalami surplus US$950 juta pada Januari 2026. Artinya, ini merupakan surplus 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Kendati demikian, nilai surplus jauh lebih sempit dibanding posisi surplus neraca perdagangan pada Desember 2025 yang mencapai US$2,51 miliar.
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Ateng Hartono menjelaskan, pada Januari 2026, neraca perdagangan terutama ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas, yakni sebesar US$3,22 miliar.
"Beberapa komoditas penyumbang surplus yakni, lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026).
Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$2,27 miliar, dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah dan hasil minyak, serta gas.
Baca Juga
Nilai Ekspor Januari 2026 Naik 3,39%, Lebih Rendah dari Proyeksi
Nilai Impor Januari 2026 Melonjak 18,2%, Sejalan dengan Estimasi
Konsensus Bloomberg: Ekspor-Impor Tumbuh di Januari
Next article →