Sentris Media - Ringkasan
Konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran karena IRGC berencana menutup Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan hampir 30 % minyak dunia, sehingga potensi gangguan perdagangan Indonesia masih perlu dikaji lebih lanjut.
Impor non‑migas Indonesia dari negara‑negara sekitar Selat Hormuz meliputi US$ 8,4 juta dari Iran (buah‑buah, besi, baja, mesin), US$ 718,8 juta dari Oman (besi, baja, bahan kimia organik, garam, belerang, semen), serta US$ 1,4 miliar dari Uni Emirat Arab (logam mulia, aluminium, bahan bangunan).
Ekspor non‑migas Indonesia ke ketiga negara mencatat US$ 249,1 juta ke Iran (buah‑buah, kendaraan, lemak/minyak), US$ 428,8 juta ke Oman (lemak/minyak, kendaraan, mineral), dan US$ 4,0 miliar ke Uni Emirat Arab (logam mulia, lemak/minyak, kendaraan serta suku cadangnya).
! Ringkasan ini dihasilkan dengan menggunakan AI
Memanasnya konflik di Timur Tengah menyusul pengerahan pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk menutup Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap arus perdagangan global, termasuk Indonesia.
Selat yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman tersebut merupakan jalur vital distribusi minyak dunia, dengan hampir 30% pasokan minyak global melintas di kawasan itu.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengatakan potensi gangguan terhadap ekspor-impor Indonesia masih perlu kajian lebih lanjut.
“Berapa persen yang mungkin akan terganggu tentunya perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Namun sebagai gambaran, berikut ekspor dan impor Indonesia dari negara jalur Selat Hormuz, yaitu Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab selama 2025,” ujarnya dalam konferensi pers BPS, Senin (2/3).
Dari sisi impor nonmigas, Indonesia mencatat impor dari Iran sebesar US$ 8,4 juta (Rp 141,6 miliar), terutama buah-buahan (HS 08) senilai US$ 5,9 juta (Rp 99,57 miliar), besi dan baja US$ 0,8 juta (Rp 13,5 miliar), serta mesin dan peralatan mekanis (HS 84) sebesar US$ 0,7 juta (Rp 11,8 miliar).
Impor dari Oman jauh lebih besar, yakni US$ 718,8 juta (Rp 12,13 triliun), didominasi besi dan baja (HS 72) sebesar US$ 590,5 juta (Rp 9,96 triliun), bahan kimia organik (HS 29) US$ 56,7 juta (Rp 956,7 miliar), serta garam, belerang, batu dan semen (HS 25) sebesar US$ 44,2 juta (Rp 745,2 miliar).
Sementara itu, impor dari Uni Emirat Arab (UEA) mencapai US$ 1,4 miliar (Rp 23,63 triliun), terdiri atas logam mulia dan perhiasan US$ 511,1 juta (Rp 8,62 triliun), aluminium dan barang daripadanya (HS 76) US$ 181,6 juta (Rp 3,06 triliun), serta garam, belerang, batu dan semen US$ 24,3 juta (Rp 410,03 miliar).
Indonesia Ekspor Buah-buahan hingga Kendaraan ke Iran
Dari sisi ekspor nonmigas, Indonesia mengekspor ke Iran sebesar US$ 249,1 juta (Rp 4,2 triliun), terdiri dari buah-buahan US$ 86,4 juta (Rp 1,46 triliun), kendaraan dan bagiannya (HS 87) US$ 34,1 juta (Rp 575,47 miliar), serta lemak dan minyak hewan nabati US$ 22 juta (Rp 371,27 miliar).
Ekspor ke Oman mencapai US$ 428,8 juta (Rp 7,24 triliun), didominasi lemak dan minyak hewan nabati sebesar US$ 227,7 juta (Rp 3,84 triliun), kendaraan dan suku cadang US$ 64,2 juta (Rp 1,08 triliun), serta mineral (HS 27) US$ 48,1 juta (Rp 811,73 miliar).
Adapun ekspor nonmigas ke UEA tercatat paling besar, yakni US$ 4,0 miliar (Rp 67,5 triliun), dengan komoditas utama logam mulia dan perhiasan US$ 183,6 juta (Rp 3,1 triliun), lemak dan minyak hewan nabati US$ 510,3 juta (Rp 8,61 triliun), serta kendaraan dan suku cadang US$ 363,5 juta (Rp 6,13 triliun).