Peluang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 8 Persen Tergantung Konsistensi Kebijakan
Nasional

Peluang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 8 Persen Tergantung Konsistensi Kebijakan

Sentris Media - Ekonomi Indonesia – Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen dinilai bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Namun, realisasinya sangat bergantung pada konsistensi pemerintah, pelaku usaha, serta masyarakat dalam mengelola dan memaksimalkan potensi ekonomi nasional, terutama dari sisi domestik.

Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Imamudin Yuliadi, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa target tersebut pada dasarnya memiliki peluang untuk dicapai, selama fondasi ekonomi diperkuat dan kebijakan dijalankan secara konsisten.

“Kalau kita melihat dari kacamata ekonomi, sebenarnya kita memiliki dua peluang, yaitu ekonomi domestik dan ekonomi global. Untuk ekonomi domestik, peluangnya sangat besar. Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, Indonesia memiliki kekuatan pasar yang luar biasa. Jika potensi ini benar-benar digerakkan, pertumbuhan ekonomi yang signifikan sangat mungkin terjadi,” jelas Prof. Imam kepada Humas UMY pada Jumat (6/3) di UMY.

Tantangan Arus Impor

Meski demikian, ia menilai potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Tingkat pendapatan masyarakat yang masih berada pada kategori menengah serta derasnya arus barang impor menjadi tantangan serius dalam menggerakkan konsumsi dan produksi dalam negeri.

Imam menyoroti kebijakan impor yang kerap dijadikan solusi jangka pendek ketika terjadi kekurangan pasokan atau tekanan inflasi. Menurutnya, pendekatan tersebut justru berpotensi melemahkan fondasi produksi nasional, khususnya di sektor pertanian.

Baca juga: Dosen UMY Nilai Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India Tidak Rasional Secara Ekonomi

“Kalau kita memiliki roadmap pembangunan sektor pertanian yang jelas, mulai dari komoditas hingga penguatan dari hulu sampai hilir, sebenarnya itu adalah kekuatan kita. Dulu Indonesia pernah menjadi negara swasembada pangan bahkan eksportir. Namun sekarang yang sering muncul justru pilihan pragmatis. Begitu terjadi kekurangan pasokan dan inflasi meningkat, solusinya adalah impor. Padahal itu hanya solusi jangka pendek,” ungkapnya.

Praktik Ekonomi Rente

Ia juga menyoroti praktik ekonomi rente yang dinilai turut menghambat kemandirian ekonomi nasional. Menurutnya, terdapat kepentingan tertentu di balik kebijakan impor yang justru merugikan pasar domestik.

“Ekonomi rente ini yang merusak. Ketika impor dilakukan, ada potensi keuntungan bagi para pemburu rente. Akhirnya kebijakan impor dipaksakan untuk berbagai komoditas. Ini yang justru mengganggu pasar domestik kita. Jadi kalau kita ingin tumbuh hingga 8 persen, praktik-praktik seperti ini harus dihentikan,” tegas Imam.

Lebih lanjut, ia menilai berbagai program pemerintah, termasuk program penyediaan makan bergizi gratis, sebenarnya memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi daerah apabila dikelola dengan baik dan berpihak pada produk lokal.

Menurutnya, program tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat sektor pertanian, peternakan, dan perikanan daerah, asalkan rantai pasoknya benar-benar melibatkan pelaku ekonomi dalam negeri.

“Momentum ini jangan sampai hilang. Jika kita mampu menata sektor pertanian, memperkuat industri, serta menjaga stabilitas makroekonomi dengan baik, target pertumbuhan ekonomi 7 hingga 8 persen bukan sesuatu yang mustahil. Namun kuncinya terletak pada konsistensi kebijakan dan kemauan untuk terus melakukan perbaikan,” pungkasnya. (NF)

You can share this post!