Sentris Media - PATI, KOMPAS.com - Aktivitas di Kantor Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tlogowungu I, Kabupaten Pati, terpantau lengang pada Senin (2/3/2026).
Penghentian operasional ini terjadi setelah adanya aksi protes dari penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat (27/2/2026). Dalam aksi itu, warga mempertanyakan menu MBG yang dinilai tidak sesuai dengan anggaran dari pemerintah.
Di sisi lain, pihak SPPG Tlogowungu I telah mengumumkan melalui media sosial bahwa kegiatan operasional dihentikan sementara karena ada evaluasi.
Pantauan Kompas.com di SPPG tersebut, suasana kantor tampak sepi tanpa aktivitas distribusi makanan.
Meski demikian, sejumlah relawan yang berada di lokasi membenarkan bahwa tidak ada kegiatan operasional yang berjalan.
Mereka mengaku hanya melakukan absensi sembari menunggu arahan lebih lanjut dari pihak yayasan pengelola.
“Ke sini cuma absen. Kalau tidak ada aktivitas, tidak ada gajian. Dari jam 9 pagi tidak ada kegiatan apa-apa,” ujar salah satu relawan yang enggan disebutkan namanya.
Relawan tersebut menyebutkan bahwa pihak yayasan yang berdomisili di Kecamatan Wedarijaksa, Pati itu dijadwalkan datang untuk melakukan evaluasi internal.
“Kami hanya relawan, menunggu keputusan dari yayasan. Informasi lebih jelas nanti dari yayasan saja,” tambahnya.
Penghentian operasional SPPG Tlogowungu I juga berdampak langsung pada distribusi program MBG.
Sebanyak 35 sekolah penerima manfaat tidak menerima jatah MBG sejak operasional dihentikan.
Menunggu Evaluasi BGN
Lihat Foto
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Pati, Indriyanto membenarkan terkait berhentinya operasional SPPG Tlogowungu I sementara.
Menurutnya, penutupan dilakukan sembari menunggu evaluasi lanjutan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Ada penutupan sementara sampai ada evaluasi lebih lanjut dari BGN,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui via telepon.
Pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan koordinator Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) guna menindaklanjuti persoalan ini.
Sebelumnya, sejumlah warga yang tergabung dalam Aliansi Warga Tlogowungu Bersatu menggelar aksi damai di depan SPPG pada Jumat (27/2/2026).
Mereka mempertanyakan menu program MBG yang dinilai tidak sesuai dengan anggaran dari Pemerintah Republik Indonesia.
Koordinator aksi, Muhammad Ali Sobbri, menyampaikan bahwa menu MBG yang dibagikan kepada siswa hanya berupa satu buah jeruk kecil, empat butir telur puyuh, dan satu roti kering.
Paket tersebut, kata dia, jika dihitung berdasarkan harga pasaran hanya bernilai sekitar Rp 5.000.
“Menu yang dibagikan ke anak-anak katanya Rp 8.000. Tapi kami buktikan di lapangan, itu hanya sekitar Rp 5.000. Sisa Rp 3.000 itu ke mana?,” ujarnya disela-sela aksi damai, Jumat (27/2/2026).
BGN Evaluasi Menyeluruh
Terpisah, dikutip dari Kompas.com, BGN saat ini menghentikan operasional sementara di 47 SPPG. Keputusan ini diambil menyusul temuan berulang menu MBG yang tidak memenuhi standar mutu dan kelayakan konsumsi.
Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang mengatakan, langkah penghentian sementara dilakukan sebagai bagian dari pengendalian mutu yang tidak bisa ditawar.
"Kami tidak mentolerir penyimpangan standar pangan dalam program ini. Setiap temuan langsung ditindak dengan penghentian operasional sementara untuk evaluasi menyeluruh," kata Nanik, dalam keterangannya, Sabtu (28/2/2026).