Sentris Media - PIKIRAN RAKYAT - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sampaikan sejumlah risiko dari adanya konflik Timur Tengah terkini. Selain berpengaruh pada harga minyak dunia, juga berpotensi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara lebih luas.
Setidaknya ada tiga sektor yang akan terdampak langsung akibat ketegangan geopolitik ini. “Ya pertama yang terganggu kan pasti supply minyak. Yang kedua transportasi logistik. Dan yang ketiga tentunya kita melihat turisme akan sangat terganggu,” ujar Airlangga, di Gedung Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.
Tiga Sektor Ekonomi Terdampak
1. Pasokan Minyak dan Biaya Energi
Gangguan pasokan minyak menjadi dampak paling cepat terasa. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi di dalam negeri. Jika berlangsung lama, hal ini bisa menekan margin industri dan memperlambat ekspansi usaha.
2. Transportasi dan Logistik Global
Konflik yang melibatkan jalur strategis seperti Selat Hormuz dan kawasan Laut Merah berisiko mengganggu rantai pasok global. Biaya pengiriman barang dapat meningkat, terutama untuk komoditas impor dan ekspor yang melewati rute tersebut.
Kenaikan ongkos logistik akan berdampak pada harga barang, baik bahan baku industri maupun produk konsumsi.
3. Sektor Pariwisata Terancam
Airlangga juga menyoroti potensi gangguan terhadap sektor pariwisata. Ketidakpastian keamanan global biasanya memengaruhi mobilitas wisatawan internasional, termasuk arus turis dari dan ke kawasan Timur Tengah.
Jika ketegangan berlangsung lama, sektor penerbangan dan hospitality berisiko mengalami perlambatan.
Durasi Konflik Berdampak pada Ekspor
Sementara itu, potensi ekspor Indonesia ke negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain akan turut terdampak. Airlangga menyebut hal tersebut sangat bergantung pada lamanya konflik berlangsung.
“Ya kalau negara tergantung juga berapa lama. Balik lagi kita monitor aja bahwa perang ini lama atau perang 12 hari atau perang berapa jauh,” katanya.