Sentris Media - Liputan6.com, Jakarta - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) tengah memantau ketat dampak eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang memicu kenaikan harga minyak mentah Brent ke level USD 78,2 per barel. Indonesia telah menyiapkan langkah mitigasi melalui penguatan program biodiesel guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah.
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengaku masih memantau dampak serangan AS dan Israel ke Iran. Utamanya terkait dampaknya ke harga energi global. Seto masih menunggu kemungkinan eskalasi konflik di Timur Tengah tersebut. Setidaknya, dampaknya bisa terlihat jelas dalam sepekan ke depan.
"Kalau menurut saya uncertainty -nya masih cukup tinggi. Kita harus lihat dalam beberapa minggu ke depan, terutama seminggu ke depan ini, bagaimana eskalasinya di sana," ungkap Seto, ditemui di Kantor Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Jakarta, Senin (2/3/2026).
Jika tidak ada eskalasi perang lanjutan, menurutnya dampaknya tidak akan memukul terlalu berat. Meski, pada awal-awal serangan ini harga minyak mentah Brent sudah naik ke USD 78,2 per barel.
"Jadi kalau ini bisa selesai cepat, mungkin naiknya enggak akan tinggi lagi. Tapi kalau ini berlarut-larut, ya itu yang dikhawatirkan. Itu yang mungkin akan membuat kondisinya bisa lebih uncertain dan volatilitas harga di energinya bisa akan lebih tinggi," tuturnya.
Anak Buah Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan banyak negara akan terdampak eskalasi ketegangan di Iran tersebut.
Negara Importir Minyak Bakal Terdampak
Seto menuturkan, negara yang mengimpor minyak mentah akan merasakan dampak eskalasi perang, apalagi jika penutupan Selat Hormuz dilakukan dalam waktu yang lebih lama.
"Secara umum, secara keseluruhan ke seluruh negara, saya kira dampaknya adalah transmisinya itu akan mungkin dilihat nanti dari harga energi. Jadi itu yang mungkin akan mempengaruhi kondisinya banyak negara, terutama yang impor minyak," ujar dia.
Indonesia menjadi salah satu negara yang cukup banyak mengimpor minyak mentah. "Kalau LNG mungkin kalau ke Indonesia enggak terlalu kali ya. Tapi itu kan ada tiga kalau enggak salah LNG terminal yang dekat di situ. Jadi mungkin kita harus lihat seberapa besar pengaruhnya terhadap pasokannya," jelasnya.