DEN Dorong Penguatan Cadangan Energi Nasional untuk Antisipasi Krisis
Nasional

DEN Dorong Penguatan Cadangan Energi Nasional untuk Antisipasi Krisis

Sentris Media - RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Saleh Abdurrahman mendorong, percepatan pembangunan cadangan penyangga energi nasional menghadapi ketidakpastian geopolitik. Ia menilai Indonesia tidak boleh menunggu krisis terjadi sebelum mulai bergerak memperkuat ketahanan energi.

“Karena selama urusan yang di Timur Tengah ini belum tuntas, maka potensi ini selalu harus diantisipasi. Kita tidak boleh menunggu krisis terjadi baru kita bergerak, kita harus bergerak dari awal,” kata Anggota DEN Saleh Abdurrahman saat berdialog dengan RRI PRO3 di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

Ia menjelaskan, Indonesia telah memiliki regulasi cadangan operasional, namun cadangan penyangga energi masih dalam tahap pengisian. Cadangan tersebut direncanakan bertahap hingga mencapai 30 hari seperti praktik negara-negara maju.

Menurutnya, tekanan krisis saat ini menjadi momentum mempercepat realisasi cadangan strategis yang telah lama direncanakan. Ia menyebut kondisi ekstrem sekarang berbeda karena melibatkan hampir seluruh negara teluk penghasil energi.

Selain cadangan, ia mengapresiasi, kebijakan mandatori biodiesel B40 yang dinilai sangat membantu pengurangan impor solar. Dengan B40, kebutuhan solar murni berkurang karena sebagian dipenuhi campuran biodiesel produksi dalam negeri.

“Artinya untuk B40 ini impact-nya sangat bagus buat kebijakan tenangan energi kita. Kemandirian energi kita, maupun kedaulatan energi kita saya kira,” ucapnya.

Ia menambahkan, rencana mandatori bioetanol mulai 2028 berpotensi semakin menekan ketergantungan impor energi. Saleh juga mengimbau masyarakat mampu beralih ke BBM dan LPG non-subsidi demi menjaga beban subsidi dan ketahanan nasional.

Sebelumnya, Menteri ESDM mengungkapkan stok BBM dan LPG saat ini rata-rata berada di atas standar minimum nasional. Menurutnya, standar minimum nasional yang ditetapkan untuk cadangan energi adalah selama 21 hari.

Bahlil menegaskan, seluruh cadangan yang tersedia telah melampaui batas minimum 21 hari tersebut. Namun ia mengakui ketahanan energi nasional dan kapasitas penyimpanan maksimal berada pada kisaran 25 hingga 26 hari.

Karena itu, pemerintah kini berupaya membangun fasilitas penyimpanan dengan kapasitas hingga tiga bulan. Ia menambahkan kapasitas tiga bulan tersebut merupakan standar internasional yang menjadi acuan penguatan ketahanan energi nasional.

“Makanya sekarang pemerintah lagi sedang berusaha untuk membangun storage (penyimpanan) yang kapasitasnya bisa sampai dengan 3 bulan. Karena itu standar internasional,” ujarnya.

You can share this post!