Sentris Media - Surabaya - Ketika konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkat pada akhir Februari 2026, salah satu dampak paling serius yang menghantam tatanan perdagangan global adalah gangguan di Selat Hormuz, salah satu jalur laut paling vital di dunia. Selat sempit yang membentang di antara Teluk Persia dan Teluk Oman ini bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Jalur ini menangani sekitar 20 persen dari seluruh pasokan minyak mentah dan gas alam cair yang diperdagangkan secara global setiap hari, serta menjadi rute utama ekspor dari negara-negara produsen energi besar di kawasan Teluk.
Dalam beberapa hari terakhir, serangkaian serangan militer, termasuk tindakan militer AS dan Israel terhadap fasilitas Iran yang memicu eskalasi perang, menyebabkan operator kapal besar dan pengusaha maritim menghentikan atau mengurangi aktivitas mereka di selat tersebut. Bahkan sejumlah data rute kapal menunjukkan bahwa aktivitas kapal tanker anjlok hingga 40-50 persen, sementara lebih dari 150 kapal harus berlayar mengelilingi Teluk Besar untuk menghindari Selat Hormuz yang kini dipandang sebagai bahaya perang.
Penutupan atau gangguan serius pada jalur ini bukan sekadar berita geopolitik. Sebab jika Selat Hormuz benar-benar ditutup atau navigasi terhambat secara efektif, dampaknya akan terasa jauh di luar kawasan konflik di Timur Tengah, termasuk bagi negara-negara yang jauh dari zona perang seperti Indonesia.
Komoditas Mana Saja yang Terdampak?
Efek langsung dari penutupan atau gangguan transit di Selat Hormuz adalah kenaikan tajam harga minyak mentah dunia. Karena sekitar 15 hingga 20 juta barel minyak per hari biasanya melalui selat ini, gangguan rute akan menurunkan pasokan global dalam waktu singkat sehingga mendorong harga menjadi lebih tinggi. Sejumlah analis bahkan memperkirakan di tengah eskalasi perang harga minyak bisa mencapai atau bahkan melampaui 100 dolar AS per barel dalam skenario terburuk jika gangguan berlangsung lama.
Harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) terpantau telah melonjak dua digit setelah serangan di kawasan tersebut, sebagian besar karena kekhawatiran pasar akan pasokan yang terputus. Kenaikan harga energi ini berdampak pada sektor lain, termasuk bahan bakar konsumsi masyarakat, biaya transportasi barang, serta harga energi industri yang terhubung langsung dengan produksi dan distribusi barang lain.
Selain minyak mentah dan gas alam cair (LNG), komoditas lain yang sangat bergantung pada rute ini antara lain produk petrokimia, bahan bakar penerbangan, serta sejumlah komoditas impor yang biaya produksinya tergantung pada energi impor. Industri seperti pulp dan kertas, logam, dan bahan kimia juga akan merasakan kenaikan biaya produksi karena harga energi yang lebih mahal dan gangguan rantai pasokan global.
Perdagangan melalui Selat Hormuz bukan hanya soal energi. Lewat jalur ini juga banyak barang-barang manufaktur, komponen industri, dan produk konsumsi diangkut sebagai bagian dari jaringan perdagangan global. Gangguan maritim yang berkepanjangan bisa menaikkan tarif pengiriman kontainer secara signifikan, memperlambat arus barang, serta mendorong biaya logistik naik di banyak sektor ekonomi.
Kondisi Indonesia dan Perhatian yang Perlu Dimiliki Masyarakat
Bagi Indonesia yang merupakan negara importir energi berskala besar, dampak dari gangguan di Selat Hormuz akan segera terasa melalui kenaikan harga bahan bakar minyak dan gas, serta potensi kenaikan harga energi domestik. Kenaikan harga energi ini sering kali berimbas pada sektor transportasi, distribusi barang kebutuhan pokok, serta biaya produksi industri yang tinggi.
Jenis komoditas yang mungkin paling langsung dirasakan oleh masyarakat Indonesia meliputi bahan bakar kendaraan, listrik berbasis bahan bakar fosil, serta harga barang kebutuhan pokok yang diproduksi dengan energi intensif. Peningkatan biaya tersebut dapat mendorong naiknya inflasi harga konsumen, yang pada gilirannya memengaruhi daya beli masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah dan otoritas negara biasanya akan mencari cara untuk meredam dampak ini, antara lain dengan memanfaatkan cadangan strategis energi, mendukung diversifikasi sumber energi (seperti energi terbarukan), serta melakukan negosiasi dengan mitra dagang lain untuk mencari sumber impor alternatif. Penyesuaian kebijakan fiskal dan moneter juga sering dilakukan untuk meredam tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.
Selain itu, masyarakat Indonesia yang bekerja di sektor logistik dan maritim perlu waspada terhadap keselamatan kerja, terutama awak kapal yang terlibat dalam rute yang terdampak. Situasi perang di kawasan Teluk meningkatkan risiko bagi pelaut, termasuk ancaman terhadap kapal kargo, gangguan asuransi maritim, serta rerouting yang panjang dan mahal jika jalur Selat Hormuz terus dinyatakan berbahaya.
Bagaimana Dunia Merespons Krisis Ini?
Negara-negara konsumen minyak terbesar di Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan sangat tergantung pada energi yang melewati Selat Hormuz. Ketika konflik meningkat, negara-negara ini biasanya mengambil langkah darurat untuk menjaga stabilitas energi nasional, termasuk mengaktifkan cadangan strategis minyak dan mencari pasokan alternatif.
Selain itu, rute pelayaran lain yang lebih panjang, misalnya mengelilingi Afrika melalui Selat Suez atau Cape of Good Hope, juga menjadi opsi meskipun biaya dan waktu tempuh akan jauh lebih tinggi. Biaya asuransi juga melonjak secara signifikan ketika risiko perang meningkat, sehingga robeknya jaringan perdagangan global akan memperlambat aliran barang secara keseluruhan.
Namun, para analis global juga memperingatkan bahwa penutupan total Selat Hormuz tidak selalu menjadi strategi yang berkelanjutan karena Iran sendiri sangat bergantung pada ekspor melalui jalur tersebut. Sekitar , sehingga gangguan panjang juga merugikan ekonominya sendiri.