Relawan Mengaku Alat Berat Dirusak, Polisi Imbau Segera Laporkan
Sosial

Relawan Mengaku Alat Berat Dirusak, Polisi Imbau Segera Laporkan

Sentris Media - ACEH TAMIANG, KOMPAS.com – Relawan Masjid Nurul Ashri asal Yogyakarta yang saat ini berada di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh mengaku kembali mendapatkan teror diduga berasal dari orang tidak dikenal.

Setelah sebelumnya sempat mendapat aksi teror penemuan bangkai anjing, kali ini alat berat ekskavator milik relawan tersebut diduga dirusak oleh seseorang.

Salah seorang relawan Masjid Nurul Ashri, Satrio Widiantoro mengatakan, kejadian kali ini terjadi kawasan Kota Lintang Bawah, Aceh Tamiang, pada Selasa (3/3/2026).

“Ekskavator kita, selang hidroliknya ditusuk,” kata Satrio saat dikonfirmasi Kompas.com via pesan WhatsApp, Jumat (6/3/2026).

Satrio menyampaikan, ekskavator mereka bekerja seperti biasa di Desa Kota Lintang Bawah mulai dari pukul 08.00 WIB-17.00 WIB. Namun, saat itu ditemukan sedikit kendala, yaitu terdapat kabel putus dan kenalpot bocor.

Selanjutnya, Rabu (4/3/2026) pagi setelah kenalpot diperbaiki mereka berencana melanjutkan kembali pekerjaan di Desa Kota Lintang Bawah yang belum selesai. Untungnya, sebelum mulai bekerja, ketahuan bahwa seleng hidrolik juga rusak.

“Ternyata selang hidrolik kita nyembur minyak, setelah dicek ternyata ada bekas sayatan benda tajam di selang itu,” ujarnya.

Atas kejadian itu, Satrio mengaku sampai saat ini pihaknya belum membuat laporan ke pihak kepolisian.

“Untuk pelaporan ke pihak kepolisian belum si mas,” katanya.

Sementara itu, Kapolres Aceh Tamiang AKBP Muliadi mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum menerima adanya laporan mengenai teror atau kerusakan alat berat milik relawan yang diduga dilakukan oleh otk tersebut.

“Kita malah belum menerima laporan tentang itu, kita belum mendapatkan informasi. Alat berat yang diduga sengaja dirusak itu di mana lokasi dan kejadiannya, kami juga tidak tahu,” katanya saat dihubungi via telepon.

Muliadi menegaskan, bagi siapa pun relawan yang saat ini sedang berada di Aceh Tamiang, diimbau agar segera melapor atau memberitahukan ke pihak kepolisian terdekat agar bisa segera ditindaklanjuti.

“Jangan dilaporkan ke medos, kalau bermedsos seperti inikan tidak elok, apalagi (mohon maaf) ini kita daerah bencana, bulan Ramadhan, kita jagalah kondusivitas,” ujarnya.

“Kan belum tentu yang diduga seperti itu benar adanya. Jadi seoalah-oleh teror, seperti apa, sudah cukuplah masyarakat Aceh Tamiang ini dengan bencananya, janganlah ditambah dengan hal-hal lain,” kata dia.

Menurut Muliadi, kondisi masyarakat Aceh Tamiang saat ini psikologisnya masih belum pulih. Ia mempersilakan relawan berkomunikasi dengan kepolisian setempat jika ada masalah.

“Jangan bermain media sosial, media sosialkan tidak ada solusi juga. Yang ada nanti kalau memang ini benar fakta, kalau fitnah? Cukuplah Tamiang ini dengan bencana kemarin. Jangan ditambah-ditambah seolah teror sudah seperti apa, sudah enggak benar juga membuat stigma orang ke masyarakat Aceh Tamiang tidak bagusm” tuturnya.

Muliadi menegaskan, pihaknya siap menjaga dan mengamankan para relawan yang sudah berbuat untuk masyarakat dan Aceh Tamiang khususnya.

“Kalau disebutkan teror, nanti ada relawan yang mau ke sini sudah tidak jadi, takut. Kita anggota kepolisian 24 jam siap mengamankan para relawan yang sudah beramaliah di Tamiang,” kata dia.

You can share this post!